IT’S TIME TO TRANSFORM!
Malam itu saya bertemu Pak Tommy di sebuah restoran Italia di SCBD.
Perusahaan yang diwarisi dari kakeknya puluhan tahun lalu kini telah menjadi market leader di Indonesia, dengan omzet puluhan triliun dan profitability tinggi. Namun malam itu dia justru terlihat khawatir. "Mas, saya baru saja melakukan leadership assessment kepada semua Director dan Senior Vice President."
Hasilnya menarik. Kompetensi terkuat: Managing Stakeholders dan Driving Execution Kompetensi terlemah: Leading Transformation dan Leading Innovation. Dua kompetensi yang paling dibutuhkan untuk menghadapi masa depan justru menjadi yang paling lemah.
**
THE SUCCESS TRAP
Ketika perusahaan masih kecil, orang dipaksa untuk berpikir. Customer pergi, panik. Produk tidak laku, cash flow terganggu. Competitor menemukan cara baru, harus segera bereaksi. Tetapi ketika perusahaan sudah menjadi market leader, semuanya mulai nyaman. Revenue besar.Profit tinggi.Customer loyal.Sistem dan prosedur sudah berjalan.Akhirnya muncul keyakinan: "Jangan merusak sesuatu yang sudah bekerja."
Keberhasilan masa lalu kemudian berubah menjadi budaya. Orang-orang menjadi sangat pintar memenangkan permainan yang sekarang, tetapi belum tentu pintar menciptakan permainan yang baru.
**
Managing stakeholders adalah kompetensi penting. Tetapi kalau terlalu dominan, bisa berubah menjadi: Managing approval. Leader terlalu sibuk memastikan semua orang happy dan setuju, daripada memastikan perusahaan mengambil keputusan yang benar. Organisasi bisa menjadi sangat efisien...dalam melakukan sesuatu yang sudah tidak relevan. Padahal inovasi hampir selalu membuat seseorang tidak nyaman.
**
CULTURE ALWAYS BEATS COMPETENCY
Saya mengatakan kepada Pak Tommy:"Leadership competency tidak berdiri sendiri."
Culture membentuk behavior.Dan culture dibentuk oleh apa yang organisasi:
Reward. Tolerate. Punish.
Kalau organisasi selalu memberikan reward untuk certainty, orang menghindari uncertainty.
Kalau reward hanya diberikan untuk success, orang takut gagal.
Kalau reward diberikan untuk agreement, orang berhenti challenging.
Kalau reward diberikan untuk execution, orang berhenti questioning.
Maka hasil assessment tadi menjadi masuk akal.
Strong execution. Weak transformation. Strong stakeholder management. Weak innovation.
Bukan karena mereka tidak mampu. Tetapi karena organisasi mengajarkan mereka untuk menjadi seperti itu.
**
SO, WHAT SHOULD WE DO?
Kami merekomendasikan lima hal:
1. CHANGE WHAT YOU REWARD
Jangan hanya bertanya: "Did you deliver the target?"
Tanyakan juga:
"What did you change?"
"What did you improve?"
"What did you challenge?"
"What did you experiment with?"
"What did you stop doing?"
Transformation bukan hanya menambahkan sesuatu.
Kadang transformation dimulai dengan keberanian menghentikan sesuatu.
**
2. MAKE "CHALLENGE" A LEADERSHIP EXPECTATION
Dalam meeting, jangan hanya bertanya: "Are we on track?"
Tanyakan:"What assumption might be wrong?" "What are we not seeing?"
"What will make our current business irrelevant five years from now?"
Semuanya harus merasa aman untuk berbeda pendapat.
**
3. CREATE A FAILURE-FRIENDLY ENVIRONMENT
Innovation membutuhkan eksperimen. Dan eksperimen memungkinkan failure. Bedakan bad failure dengan intelligent failure. Bad failure terjadi karena pekerjaan tidak dilakukan dengan benar. Intelligent failure terjadi ketika eksperimen dilakukan dengan disiplin, tetapi hypothesis ternyata salah. Yang kedua harus dipelajari.
**
4. BUILD TRANSFORMATION INTO THE JOB
Setiap Director dan SVP harus memiliki dua scorecard:
Business Today: Revenue, profit, market share, customer satisfaction, operational excellence.
Business Tomorrow: New business model, new product, new technology, new customer, new capability, new experiment.
Kalau hanya mengukur hari ini, orang akan mengoptimalkan hari ini.
**
5. START WITH YOURSELF
Ini yang paling sulit. Culture organisasi mengikuti perilaku pemimpinnya.
Kalau leader berkata ingin innovation tetapi selalu bertanya: "ROI-nya berapa?"
"Sudah terbukti?" "Siapa yang pernah melakukan?" . Maka organisasi belajar: Innovation is dangerous.
Kalau setiap orang yang mempertanyakan cara lama dijawab:
"Selama ini kita sudah melakukan ini dan berhasil." Organisasi belajar: Don't challenge the past.
Tetapi kalau pemimpin berkata: "Saya mungkin salah." "Ada yang punya pandangan berbeda?"
Maka organisasi belajar untuk berani berpikir.
________________________________________
THE REAL LEADERSHIP QUESTION
Perusahaan yang sedang kesulitan biasanya tahu bahwa mereka harus berubah. Yang lebih berbahaya adalah perusahaan yang sangat sukses... tetapi tidak sadar bahwa dunia di sekelilingnya sedang berubah. Karena itu, pertanyaan terbesar kepada para Director dan SVP bukan lagi:"Can you execute?"
Mereka sudah terbukti bisa. Pertanyaan yang lebih penting adalah:
"Can you lead the company into a future that does not yet exist?"
Sekarang tantangannya bukan hanya membuat perusahaan semakin besar. Tetapi memastikan perusahaan tetap relevan ketika dunia berubah. Karena jangan sampai... kesuksesan masa lalu justru menjadi alasan kita gagal menciptakan masa depan.
**
Salam Hangat,
Pambudi Sunarsihanto


