70-20-10: THE EFFECTIVE WAYS TO DEVELOP OUR TALENTS
**
Dalam perjalanan dinas terakhir saya ke Singapura, saya sempat bertemu teman lama dari Swedia.
Sebut saja namanya Anders, seorang Regional Director, yang bertanggungjawab untuk pengembangan bisnis perusahaannya di wilayah Asia Pasific.
Setelah berdiskusi tentang beberapa teman lama, dan minum kopi serta croissant kami, mulailah Lars berdiskusi.
“Pam, apakah problem ini dimiliki oleh semua perusahaan di Asia ya?”
“What is the problem you are referring to?” tanya saya.
“Saya punya masalah dalam mengembangkan talent. Kami harus mengembangkan bisnis ke beberapa negara baru yang marketnya belum pernah kami masuki. Kami juga harus melakukan akuisisi pada beberapa perusahaan baru. Tapi untuk itu, kami kekurangan talenta atau business leader yang perlu menjalankan bisnis baru tersebut. Dan ini sangat menghambat perkembangan bisnis kami. Kami tidak bisa mengandalkan perekrutan pegawai baru dari luar untuk menjalankan bisnis baru tersebut. Mereka tidak akan mengenal product kami, mereka tidak akan mengenal budaya perusahaan kami. “
“Lha sebelumnya, talenta-talenta yang ada tidak dikembangkan?”
“Mereka sudah banyak ditraining. Kami sudah menyelenggarakan pelatihan. Bahkan mengirimkan mereka training ke Shanghai, London dan bahkan beberapa ke Harvard. Tapi impactnya tidak maximal!”
“Jadi, selama ini pengembangan talent hanya dengan melalui training?”
“Lha? Memangnya? Apa lagi yang bisa dilakukan?”
**
Sebenarnya pertanyaan Anders ini sangat relevant. Banyak CEO merasa sudah mengabiskan banyak uang (dan waktu) untuk mengirimkan talent-talent mereka ke training, tapi hasilnya tidak maximal. Apa yang terjadi?
Realitasnya adalah, di training classroom (atau di OnLine learning), banyak yang hanya belajar teori. Bahkan banyak yang pergi ke training, di sana mendapatkan training binder berisikan materi yang tebal-tebal, pulang ke kantor, binder disimpan di lemari, dan ilmunya tidak pernah terpakai.
**
Apa yang biasanya dilakukan oleh sebuah perusahaan untuk menjalankan training?
Pertama, biasanya dimulai dengan Training Needs Analysis. Kemudian mereka akan memanggil seorang trainer. Setelah itu mereka berdiskusi dan meng-customize materi trainingnya. Sebelum mereka menjalankan trainingnya, mereka bertanya ke trainernya, berapa maximal peserta dalam satu class? Anggaplah, misalnya 30. Maka, dengan dalih untuk memaximalkan benefit investasi, maka mereka akan memanggil 30 peserta training.
Lha? Padahal kebutuhan 30 orang itu biasanya berbeda-beda kan? Terus apa yang terjadi? 10 peserta yang relevant akan benar-benar mendengarkan dan mendapatkan benefitsnya. 10 yang sopan akan ngantuk-ngantuk sambil WA-an dengan WA group alumni universitasnya, SMA, SMP, RT/RW dan lain-lain, yang 10 lagi bertanya-tanya, “Ngapain kita ada di sini?”. This is sad, unfortunately it is still true in many companies. Kebutuhan manusia kan beda-beda?
**
Padahal, sebuah pepatah Tingkok kuno, sudah pernah mengatakan,” I Hear And I Forget. I See And I Remember. I Do And I Understand.” (Aku mendengar dan aku lupa. Aku melihat dan aku mengingat. Aku melakukan dan aku mengerti.).
Artinya apa? Belajar yang paling efektif adalah dengan mengerjakan (LEARNING BY DOING). Berarti kitab isa saja mengirimkan talent-talent kita training ke 8 penjuru dunia, tapi kalau kita tidak encourage (mendorong) dan mewajibkan mereka menerapkan ilmu yang dipelajari, kita sedang menyia-nyiakan budget perusahaan. Dan ini sejalan dengan konsep LEARNING 70-20-10.
Model LEARNING 70:20:10 menunjukkan bahwa 70% pembelajaran berasal dari pengalaman kerja, 20% dari interaksi sosial, dan 10% dari pelatihan formal.
Ini adalah adalah kerangka kerja untuk pembelajaran dan pengembangan talent yang menekankan bagaimana karyawan kita yang punya potensi tinggi dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan di tempat kerja, dengan cara yang maximal.
Model ini dikembangkan oleh Morgan McCall, Michael Lombardo, dan Robert Eichinger berdasarkan survei eksekutif tahun 1996, yang menyimpulkan bahwa sebagian besar pembelajaran mereka berasal dari pengalaman praktis (Learning By Doing), interaksi dengan orang lain (Coaching atau Mentoring), -dan pendidikan formal (classroom training atau e-Learning) dengan rasio sekitar 70:20:10 (70% pengalaman, 20% pembelajaran sosial, 10% pembelajaran formal).
Memang beberapa kritikus mencatat bahwa model ini kurang memiliki bukti empiris yang kuat, persentase pastinya bersifat arbitrer, dan mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan lingkungan pembelajaran modern yang dipengaruhi oleh teknologi dan metode pembelajaran informal. Meskipun demikian, model ini tetap menjadi referensi yang banyak digunakan untuk merancang strategi pembelajaran. Saya sendiri melakukannya di beberapa perusahaan di mana saya bekerja, dan berjalan dengan baik.
**
What does it means?
70% Pembelajaran di Tempat Kerja: Sebagian besar pembelajaran terjadi melalui tugas-tugas yang menantang, pemecahan masalah, eksperimen, dan refleksi selama pekerjaan sehari-hari. Pengalaman langsung ini memungkinkan karyawan untuk mengembangkan keterampilan praktis dan beradaptasi dengan situasi dunia nyata. Berikan mereka assignment yang membuat mereka mempelajari hal-hal baru, yang sesuai dengan kebutuhan (atau competence gaps, yang selama ini menghambat pengembangan mereka).
**
20% Pembelajaran Sosial: Belajar dari orang lain, termasuk umpan balik, bimbingan, pelatihan, dan pengamatan rekan kerja, memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan. Ini menekankan pentingnya kolaborasi dan belajar dari contoh positif dan negatif.
Sebenarnya yang paling bermanfaat adalah pembelajaran melalui coaching dari atasannya. Sayangnya banyak atasan yang sibuk sana-sini, meeting sana-sini, bahkan kadang membatalkan banyak meeting untuk dipanggil oleh para “stakeholders” mereka. Mereka tidak bisa disalahkan juga, itu bagian dari tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab mereka.
Solusinya bagaimana? Kalau internal coach tidak efektif, ya gunakan external coach (mereka dari luar perusahaan, utamakan yang pernah jadi CEO, pernah menjadi direksi, pernah menjadi VP, yang pernah mempunyai strong track record dalam pekerjaannya, tahu bagaimana “bekerja”, bukan hanya para consultant yang seumur hidup hanya jadi consultant, tanpa mengerti susahnya “bekerja yang bener”). Mereka bisa membantu mengembangkan talent-talent kita, dengan sharing experiences yang pernah mereka hadapi sebelumnya, dan membantu talent mengembangkan diri untuk menutuk competence gaps mereka.
**
10% Pembelajaran Formal, tetap perlu dilakukan. Talent-talent bisa tetap mengikuti training, seminar, on-Line learning dan materi bacaan memberikan pengetahuan dasar dan mendukung pengembangan keterampilan. Meskipun proporsinya lebih kecil, pembelajaran formal sangat penting untuk memperkenalkan konsep dan kerangka kerja baru.
**
Intinya apa? Jangan hanya mengandalkan training saja. Pengembangan yang optimal memerlukan kombinasi yang tepa tantara “Learning by doing” (70%), “Coaching/mentoring, internal atau external” (20%), dan pembelajaran teori (Classroom, online learning …dll).
**
Terus, bagaimana menerapkannya?
Organisasi dapat mengimplementasikan model 70:20:10 dengan:
• Merancang tugas kerja yang menantang yang mendorong pembelajaran berbasis pengalaman.
• Mendorong budaya pembelajaran dari orang lain: mentoring, coaching, pembelajaran dari rekan kerja (peers) dan mekanisme feedback (umpan balik).
• Menawarkan pelatihan formal yang ditargetkan untuk melengkapi pembelajaran praktis dan sosial.
• Menggunakan model ini sebagai pedoman yang fleksibel , dengan menyesuaikan rasio dengan peran spesifik dan kebutuhan masing-masing individu/talent dalam organisasi.
**
Salam Hangat,
Pambudi Sunarsihanto
