SHOULD WE KEEP OR FIRE THE BEST PERFORMER WITH TOXIC BEHAVIOR?

18.44 0 Comments A+ a-

 

(Apakah kita harus mempertahankan atau memecat karyawan dengan kinerja terbaik tetapi mempunyai kelakuan yang toxic?)

**

Hari Minggu sore, saya diminta sharing session di sebuah perusahaan distribusi farmasi dan alat-alat kedokteran. Saya kagum dengan semangat mereka untuk belajar pada hari Minggu yang mestinya mereka beristirahat bersama keluarga.

Saya sharing tentang peran seorang Leader dalam memimpin bisnis, mempimpin teamnya dan memimpin dirinya sendiri. Kemudian saya menjelaskan hubungan yang kuat antara motivasi karyawan, kepuasan pelanggan dan keuntungan perusahaan untuk jangka panjang.

Saat coffe break, datanglah Pak Tomi ( Sales Director), meminta bertemu pertanyaan secara private. Dia bercerita bahwa dia mempunya 6 regional sales manager. Di antara 6 orang manager tersebut, ada 1 orang yang menghasilkan 45 persen profit perusahaan. He is an excellent performer. Sayangnya, kelakuannya sangat toxic. Tiga orang di team nya sudah resign, perusahaan kerepotan mencari pengganti, dan sekarang sudah ada 4 orang yang mengancam mau resign, kalau dia tidak dikeluarkan.

Sales Director itu dengan putus asa, bertanya ke saya,”Pak Pam, Apakah kita harus mempertahankan atau memecat karyawan dengan kinerja terbaik tetapi mempunyai kelakuan yang toxic?”

**

Wah pertanyaan yang sangat menarik. Saya yakin beberapa pembaca tulisan ini, akan menjawab, bahwa kita harus memecat atau mengeluarkan karyawan itu. Kinerja excellent nggak bisa jadi “tameng” buat perilaku toxic. Biaya toxic employee lebih mahal dari revenue yang dia hasilkan, Riset Harvard: 1 karyawan toxic bikin perusahaan rugi ∼$12,000/tahun karena turnover, absensi, dan produktivitas tim turun. Buat apa kita kehilangan 3 orang buat menahan 1 orang.

Sabaaaaar…. Sabar … tunggu dulu. Ternyata kita sebaiknya jangan langsung memilih antara “pecat” atau “pertahankan” — tapi perlakukan ini sebagai masalah bisnis serius yang harus ditangani tegas dan cepat. This is a real test of leadership.

**

Sambil ngobrol dulu saya bertanya,”Pak , seandainya saja bapak adalah pemilik perusahaan. Apa harapan anda pada perusahaan tersebut?"

"Agar perusahaan berkembang, dan profit nya naik setiap tahun."

Nah kan?!!!

Di sinilah pentingnya profit, revenue, dan pertumbuhan bisnis (growth). Di situ focusnya.

Jangan mengkompromikannya.

Semua berperan untuk menjaga hal ini, meningkatkan kinerja bisnis (profitability), dan meningkatkan atmosphere positif di organisasi.


**

Kasus di atas adalah kasus nyata. Banyak sekali excellent performer yang ternyata behavior-nya jelek. Apa yang perlu anda lakukan? Mari kita bedah dengan jernih:

Ini bukan sekadar isu perilaku — ini sudah jadi risiko bisnis. Membiarkan seseorang yang toxic secara jangka panjang akan merugikan bisnis. Tapi jangan langsung pecat — lakukan proses terstruktur.

Lihat, regional Sales manager yang bermasalah tadi berkontribusi pada 45% keuntungan perusahaan, berarti produktifitas nya dia 3 kali lipat dibandingkan yang lain (di sisi lain. Kita juga bisa mempertanyakan, Mengapa perusahaan tidak mempertimbangkan untuk memecat yang lain yang behaviornya bagus tapi kinerjanya hancur?).

Siapkah perusahaan kehilangan 45% profit?

Sebuah bisnis dijalankan untuk menghasilkan profit, dengan menjaga suasana kerja yang positif. Tapi dua-duanya harus jalan. Tidak boleh suasana kerjanya positif, tapi profitnya merosot! Nanti bayar karyawan lainnya pakai apa? Harus dijaga dua-duanya!

**

Terus apa yang perlu dilakukan?

a) Training dan coaching , satu atau dua karyawan internal terbaik untuk menggantikan si “bad-behavior” dalam 1-2 tahun lagi

**

b) Recruit, 2 orang external, dengan kinerja yang bagus, dan behavior yang bagus, berikan waktu selama 1 tahun untuk berkembang di organisasi agar mampu beradaptasi dan berkinerja maximal. Dengan Langkah a) dan b) sebuah organisasi sedang mempersiapkan “organizational capability” bukan hanya “individual competence”

**

c) Coaching karyawan anda yang Top Star secara kinerja, tapi behaviornya toxic, sampaikan ekspektasi dengan jelas, bahwa kita perlu menjaga dua hal: kinerja dan behavior. Beri kesempatan untuk berubah (Performance Improvement Plan khusus perilaku). Fokus bukan hanya skill, tapi attitude & collaboration. Buat target yang terukur: dengan feedback dari rekan kerja.

**

d) Saat alternative a) atau b) (sesuai rekomendasi di atas), sudah ready. Artinya mereka sudah siap menggantikan si "bae-behavior" (dalam menghasilkan kinerja yang sama, secara individu atau kolektif, lakukan evaluasi pada karyawan yang tadinya behaviornya jelek. Jika karyawan toxic tidak berubah → lepaskan tanpa ragu. Keputusan rasional adalah: keluarkan. Kenapa? Anda sedang melindungi organisasi, bukan individu. Memberi toleransi = memberi sinyal: “Toxic behavior is acceptable if you perform”. Itu sangat berbahaya.

Tapi ingat, Langkah e) bisa dijalankan tanpa mengkompromikan kinerja organisasi secara keseluruhan. Jangan buru-buru. Jangan sampai kehilangan 45% profit. Siapkan semua alternative. Itulah pentingnya mengembangkan talent dan succession plan, agar organisasi tidak tergantung pada beberapa orang saja.

**

Kasus di atas adalah sebuah test of leadership. Masalah culture (budaya kerja) bukan hanya urusan HR, tetapi juga ownership ada di business leader. Semua berperan untuk menjaga hal ini, meningkatkan kinerja bisnis, dan meningkatkan atmosphere positif di organisasi.

**

Salam Hangat


Pambudi Sunarsihanto

THINK DIFFERENTLY! (LEARNING from MICHELIN)

17.04 0 Comments A+ a-


Bram, seorang teman saya curhat,” Pam, kayaknya bisnis yang sedang saya jalankan ini sulit berkembang. Sudah 9 bulan, tapi seperti jalan di tempat.  Mungkin sebaiknya saya ganti bisnis atau bahkan melamar pekerjaan di perusahaan ya??”

Lho? Kok begitu?

Dan ternyata begitu banyak di antara kita yang berpikiran seperti itu. Kalau pesimis bahwa goal kita akan tercapai, mestinya bekerja, belajarnya dan bereksperimen yang harus lebih keras lagi.

Dengan cara pikir dan strategy yang seperti ini pantas saja kalau banyak yang tidak mencapai hasil yang diinginkan .

- Kalau bisnis kita gak jalan, sebaiknya ganti bisnis saja

- kalau product kita gak laku, ya harganya harus diturunkan.

- Kalau karyawan kita keluar , ya berarti gajinya harus dinaikkan

- Kalau customer complain berarti jumlah Customer service nya harus ditambah

Really? Apakah itu benar benar cara efektif menyelesaikan masalah?

Wah sepertinya pola pikirnya kok beda! Think again.

Kalau bisnis gak jalan, dan ternyata langsung ganti bisnis, lha iya kalau habis itu jalan, jangan-jangan masalahnya ada di pola pikir kita.

Kalau product gak laku harga diturunkan, terus apa yang Kita akan lakukan kalau ada competitor lain dengan harga yang lebih murah lagi?

Kalau karyawan resign terus gajinya dinaikkan, apa yang Kita lakukan kalau enam bulan kemudian dia mendapatkan job offer lain? Nah,, repot lagi kan?

**

Mari kita belajar dari Michelin!

Mereka tahu cara berfikir dengan cara yang berbeda.

Michelin adalah salah satu pabrik pembuat ban mobil di Perancis. Tapi sayangnya dulu, terdapat kurang dari 3.000 mobil di jalanan Prancis. Dan mobil yang hanya sedikit pula, maka ban mobil jarang sekali aus (wear out). Dan volume penjualan ban pun sangat sedikit. Pendapatan perusahaan pun kecil.

Mungkin kalau Bram menjadi pemilik Michelin akan langsung menutup pabrik ban, dan mengganti dengan bisnis lain. Tapi mereka berpikir lain. Mereka berusaha membuat para pengendara mobil keliling Eropa untuk makan di restaurant restaurant yang bagus di negara-negara lain.

Édouard dan André Michelin menerbitkan panduan untuk pengendara mobil Prancis, Guide Michelin. Hampir 35.000 eksemplar edisi pertama yang gratis ini didistribusikan. Panduan ini memberikan informasi kepada pengendara mobil seperti peta, lokasi restaurant-restauran yang bagus,  petunjuk perbaikan dan penggantian ban, daftar bengkel mobil, hotel, dan SPBU di seluruh Prancis.. Mereka berpikir buku Panduan ini dapat mendorong pemilik mobil untuk lebih sering mengemudi, yang akan meningkatkan keausan ban dan pada gilirannya meningkatkan penjualan penggantian ban.

Ide yang original! Tetapi ternyata mereka mencapai goal-nya.

**

Bagaimana kalau kita tidak hanya berpikir yang simple-simple saja? Bagaimana kalau kita lebih open mind, menggunakan otak kita untuk mencari solusi yang lebih tepat, sebelum menyerah.

You need to think differently. You need to think beyond the obvious. Kita harus memikirkan minimal belasan alternative sebelum Kita memutuskan langkah yang akan Kita jalankan!

How to do i?


*BEGIN with the END in yourMIND*

Mulailah berfikir dari tujuan akhir yang Kita ingin capai, dan  kemudian cari solusinya, berfikirlah backward .... Terobsesilah dengan tujuan akhir yang akan dicapai, setelah itu baru cari cara menjalankannya, step by step!

**

 *GENERATE ALTENATIVES*

Pikirkan dulu belasan alternative, cara-cara lain untuk menyelesaikan masalah. Jangan sampai kepikir satu cara langsung diterapkan!

Seorang pemain catur menganalisa dan mempertimbangkan 4 alternatif langkah sebelum memutuskan. Lakukan hal yang sama.

**

 *DRAW YOUR PROBLEM*

Saya belajar dari Leonardo Da Vinci untuk selalu menggunakan buku gambar A3 dan selalu menggambarkan permasalahan saya dengan segal detailnya dan dari beberapa perspective yang berbeda sebelum memikirkan solusinya.

**

*USE METAPHORES*

Belajarlah untuk menghubungkan segala macam aspek, meskipun kadang kelihatannya gak ada hubungannya.  

Seorang insinyur menggabungkan teknik membangun fondasi dengan binatang-binatang di rumah. Dan dia melahirkan design “cakar ayam” untuk membangun jalan layang.

Archimedes membandingkan sebuah teori fisika dengan batangan sabun di kamar mandinya.

Pikirkan segala perspective dan angle permasalahan Kita dan connect the dots.

*BE PRODUCTIVE*

Pikirkan banyak solusi, bikin banyak gambar, bikin alat peraga. Gak ap apa jelek atau gagal. Kee trying. Kee working. Keep learning. Just produce... produce ... produce!

**


Salam Hangat 

Pambudi Sunarsihanto

WHY A HIGHLY PROFITABLE COMPANY IMPLEMENT LAY-OFF?

17.55 0 Comments A+ a-

Mengapa sebuah perusahaan yang untungnya besar, melakukan PHK?

Malam itu Jakarta lagi hujan. Saya ber janjian makan malam di The Bridge, sebuah restoran di area SCBD, dengan Farah. . Dia bekerja di sebuah perusahaan Eropa yang menjadi market leader dalam bidangnya. Seetelah berbasa-basi Farah pun mulai curhat. (Yes, usually the women who came to me, come with all their troubles 😊 ).

“Mas, perusahaan di mana aku bekerja itu tahun 2025 yang lalu untung besar. 10 billion EUR. Tapi mas, ternyata perusahaanku akan melakukan PHK cukup besar. Bahkan akan menjual divisi “makanan” ke perusahaan lain.

Apa yang terjadi mas? Dulu kan kalau perusahaan rugi atau bangkrut yang melakukan PHK. Tetapi mengapa perusahaan di mana aku bekerja, yang untung besar tetap saja melakukan PHK. Dan bahkan menjual satu divisi ke perusahaan lain? Apakah krisis yang di depan mat akita memang seburuk itu?”

**

Semua mungkin saja terjadi!

Kita berada dalam era yang sangat tidak pasti. 

Dalam bisnis banyak raksasa yang telah tumbang.

Sebuah perusahaan yang tidak tedengar tiga tahun lalu, bisa saja saat ini sukses luar biasa dan merajai market. Tapi sebaliknya, perusahaan yang puluhan tahun berjaya, bisa saja bangkrut dalam sekejap.

**

Krisis melanda dunia saat ini. Perang sedang terjadi, seluruh dunia sedang khawatir. Perusahaan-perusahaan sedang berhati-hati, menjaga cash flow, tidak berani berinvestasi. 

Dan kita hanya menunggu waktu, sebelum effect domino akan terjadi dan melanda di mana-mana. Semua perusahaan berhati-hati.

Mengapa sebuah perusahaan yang untung besar perlu melakukan PHK?

Keuntungan besar kan terjadi tahun 2025. Tahun 2026 harus hati-hati. Harus melihat semua elemen biaya. Harus memotong semua biaya yang bisa dipotong untuk meningkatkan efisiensi dan productifitas. Dan biaya ketenagakerjaan termasuk salah satu yang pasti dievaluasi (Ini terjadi di semua perusahaan global!)

**

Mengapa di perusahaan yang untung besar, sebuah divisi bisa dijual. Karena mereka perlu focus pada perusahaan yang pertumbuhan dan keuntungannya paling besar.

Nokia menjual divisi Mobile Phone (mereka tidak tutup, tetapi mereka mempertahankan divisi Network yang masih sangat profitable sampai sekarang). 

Citibank menjual divisi Consumer Business di Indonesia (mereka tidak tutup, tetapi mereka mempertahankan divisi Corporate Banking yang masih sangat profitable sampai sekarang).

Kompetisi bukan hanya terjadi di luar, tapi terjadi di dalam. Kalau sebuah divisi keuntungannya tidak sebesar divisi lain, ya harus diperbaiki atau ditutup.

Di perusahaan di mana Farah bekerja, ternyata divisi Beauty, Personal care, serta Health & wellness, menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi!

**

Intinya apa? Semua tetap waspada! Semua tetap beresiko dalam situasi saat ini.


Dalam suasana bisnis saat ini, leader harus membangun budaya akuntabilitas. Akuntabilitas berarti bahwa individu harus mempertanggungjawabkan tindakan mereka dan menerima tanggung jawab untuk mereka, apa pun hasilnya, serta mengoreksi tindakan tersebut bila perlu.  Akuntabilitas dapat menghindarkan kita dari hal-hal negatif, tetapi juga bisa mendorang hal-hal yang positif — misalnya, untuk memberikan apresiasikepada rekan kerja yang melakukan pekerjaan dengan baik. 

Jadi membangun budaya akuntabilitas sangat penting untuk organisasi yang transparan dan etis. Tanggung jawab bersama untuk akuntabilitas di semua level — mulai dari CEO hingga karyawan yang baru join — akan menghasilkan semangat kerja yang lebih tinggi dan kinerja yang lebih efektif, dan akan membangun kesuksesan organisasi yang konsisten.

**

Terus, bagaimana membangun budaya accountability ini?

Andrew Robertson dari Gallup merekomendasikan beberapa hal yang bisa dijalankan. 

a) *Define what people are accountable for*

Karyawan perlu mengetahui, ekpektasi manajemen terhadap tujuan yang perlu mereka capai. Atasan juga perlu menunjukkan akuntabilitas melalui availability mereka sendiri dan waktu yang dihabiskan bersama team untuk mendiskusikan, mengkomunikasikan, mendapatkan feedback dan memberikan update progress, serta menyampaikan apresiasi terhadap tanggung jawab seluruh tim dan pencapiannya.

**

b) *Set and cascade goals throughout the organization*

Setelah karyawan memahami dengan jelas apa yang menjadi tanggung jawab mereka, atasan harus membantu mereka menetapkan tujuan individual yang terukur dan selaras dengan peran masing-masing. Karyawan harus menetapkan metrik (pengukuran) yang akan membantu mereka mengetahui apakah mereka mencapai tujuan yang diharapkan organisasi.

**

c) *Provide updates on progress*

Talent-talent kita membutuhkan informasi untuk mengerti apakah yang mereka lakukan sudah berada di jalur yang benar. Feedback dapat berasal dari survei pelanggan atau karyawan, pembaruan proyek yang sedang berlangsung, feedback dari social media atau sumber lain atau beberapa kombinasi dari semua hal tersebut. 

Feedback yang yang paling efektif seringkali berasal dari percakapan jujur yang sering terjadi antara atasan dan karyawan.

**

d) *Align development, learning and growth*

Organisasi harus memberikan kesempatan bagi karyawan untuk berlatih, belajar, dan berkembang. Analitik dari Gallup menunjukkan bahwa karyawan-karyawan yang lebih muda sangat mementingkan ”opportunity to grow and learn” sebagai faktor pekerjaan yang pentingnya No. 1 -- di atas semua aspek pekerjaan lainnya -- .

Bagi generasi leain, peringkat dari aspek learning and grow ini juga sangat penting.

Atasan yang fokus pada pengembangan karyawan akan sangat membantu pekerja agar mampu menjalankan tugasnya dan menghindarkan perusahaan dari resiko-resiko bisnis di masa depan.

**

e) *Recognize and celebrate progress*

Identifikasi hal-hal positive yang terjadi dan apresiasi karyawan langsung saat itu juga.

Ini akan memotivasi karyawan untuk semakin bertanggung jawab dalam tugasnya, terus melakukan yang terbaik, dan akan ditiru oleh karyawan-karyawan lain.

**

Salam Hangat


Pambudi Sunarsihanto