The Generosity Advantage

20.27 0 Comments A+ a-

Kekuatan “Memberi” untuk Membangun sebuah Tim

**

Ilma, anak saya, pernah bercerita. Seorang koleganya bernama Scott, dan mengajarinya tentang teamwork. Scott bilang,”You ... the youngsters, you have no idea what is teamworking!”

Dan Scott menceritakan pengalamannya waktu masig menjadi tentara. Suatu saat mereka berada di sebuah barak dengan 40 orang tentara. Mereka harus melepaskan sepatu mereka (setiap sepatu dipasang sticker dengan nama mereka) dan kemudian sepatu sepatu itu diacak. Dalam waktu 60 detik mereka harus menemukan sepatu mereka masing-masing. 

Dan pada saat latihan itu dimulai terjadilah kekacauan karena semua orang berebut dan mencari sepatu mereka masing masing. Bayangkan saja , 40 orang mencari 80 sepatu (kan 40 pasang), kebayang ributnya kayak apa. Tetapi tetap saja mereka tidak dapat menemukan sepatu mereka masing masing dalam waktu 60 detik.

Sampai akhirnya seseorang berteriak,”Stop! Kesalahan kita adalah kita berusaha menemukan sepatu kita sendiri-sendiri. Seharusnya kita memegang sepatu dan memberikan sepatu kita kepada pemiliknya (sesuai sticker di sepatu). “ Dan mereka pun memulai lagi. Segera setelah mereka memulai, setiap orang memegang dua sepatu dan memberikan kepada pemiliknya. Sekarang mereka mampu menyelesaikan latihan ini dalam waktu kurang dari 60 detik.

Voila! *Teamwork is not about finding your own shoes*. *Teamwork is about giving the shoes to others* . Teamwork itu bukannya bagaimana kita mencari keuntungan kita sendiri-sendiri. Teamwork itu tentang bagaimana kita membantu teman kita menemukan sepatu mereka!

**

Dan ternyata ini berlaku di pekerjaan kita.

Alangkah sialnya kita kalau berada dalam team di mana semuanya mencari keuntungan sendiri sendiri. Tentu saja akan susah bagi tim itu untuk mencapai tujuannya, dan tentu saja akan akhirnya semua akan buruk performance nya.

Alangkah beruntungnya kita kalau berada dalam sebuah team di mana semuanya berfikir untuk kepentingan teamnya, akibatnya timnya akan mencapai objective nya dan semua anggota teamnya akan berperformance kinclong. Voila, now we know the difference.

**

Dan memang teamworking skills kita akan menjadi salah satu syarat penting bagi kita untuk maju dan berkembang dalam karier kita.

Siapa sih yang tidak akan suka bekerja bersama dengan seorang team player yang baik? Di situlah pentingnya bagi kita untuk meningkatkan teamworking skills kita. 

Intinya apa? Jangan pelit berbagi! Be a generous team player!

Bagaimana caranya? Ada beberapa rekomendasi di bawah ini yang bisa diterapkan …


 • *Be GENEROUS: CONTRIBUTE  to the team*

Pertama kali, teamwork is not about receiving, it is about GIVING and CONTRIBUTING to others.  Do whatever it takes to contribute to your team.

Jangan hanya memilih pekerjaan yang paling mudah atau yang paling menguntungkan. Justru ketika Kita berani menerima tantangan yang lebih besar dan menjalankan setiap penugasan dengan penuh komitmen, Kita sedang membangun reputasi sebagai seseorang yang tangguh, berdedikasi, dan selalu dapat dikitalkan. Reputasi seperti inilah yang akan membuka lebih banyak peluang untuk berkembang di masa depan.

Team kita akan melihat betapa kita bekerja keras and bersedia melakukan challenge yang berat untuk team kita. Semua orang akan mengakui itu! Dan ini akan sangat bermanfaat di masa depan.

**

 • *Be GENEROUS: Provide SUPPORT and FEEDBACK*

Bantulah teman teman kita dengan support kita dan juga feedback buat mereka. Ingat jangan hanya mengkiririk (dan menamakan itu feedback). Kita harus memberikan kombinasi yang tepat antara feedback dan Support (bantuan yang bisa kita berikan pada mereka).

Jadi feedback kita akan berbunyi begini :

- Saya sangat suka bekerja dengan kita karena style kita yang begini ........

- Sebagai area perbaikan agar teamwork kita lebih baik lagi mungkin kita bisa melakukan ......

- Nah saya sekarang bertanya, apakah yang bisa saya lakukan untuk membantu kita?

Kemauan Kita untuk bekerja sama dan memberikan bantuan kepada orang lain akan membangun citra positif sebagai pribadi yang kolaboratif, sekaligus meningkatkan kepercayaan dari tim maupun para pemimpin organisasi.

**

• *Be GENEROUS: Share information and resources with your team*.

Ingat, sebuah team mempunyai objective yang sama, berarti kita sebaiknya membagikan semua informasi yang kita punya, agar semuanya bisa bekerja dengan lebih optimum.

Ingat, setiap anggota tim bekerja untuk mencapai tujuan yang sama. Dengan berbagi informasi secara terbuka dan memastikan semua orang memiliki pemahaman yang sama, Kita membantu tim bergerak lebih cepat menuju keberhasilan. Jika Kita memiliki pengalaman, wawasan, atau keahlian yang dapat mempermudah pekerjaan orang lain, bagikanlah dengan tulus. Kontribusi kecil Kita bisa menjadi pembeda besar bagi keberhasilan tim, dan rekan-rekan Kita akan menghargainya.

**

• *Be GENEROUS with SMILE and Keep a positive attitude*.

Kalau kita tersenyum kita akan menyebarkan positive energy ke semua orang!

Jika Kita sering mengeluh, menunda pekerjaan, atau melemparkan tugas-tugas yang sulit kepada orang lain, orang-orang di sekitar Kita akan menyadarinya—dan lambat laun mereka mungkin akan enggan bekerja sama dengan Kita. Sebaliknya, sikap yang positif dapat menjadi energi yang menyegarkan bagi tim dan membantu setiap orang tetap fokus, termotivasi, serta produktif.

Tersenyumlah dan sebarkan energi positif ke mana pun Kita pergi!

**

Jadi ingat, lakukan empat hal ini agar kita bisa menjadi team player yang baik ...

a) Be GENEROUS: CONTRIBUTE  to the team.

b) Be GENEROUS: Provide SUPPORT and FEEDBACK

c) Be GENEROUS: Share information and resources with your team.

d) Be GENEROUS with SMILE and Keep a positive attitude.

**

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

COMBINE DATA AND EMPATHY FOR SMARTER DECISION

00.39 0 Comments A+ a-

 

(Menggabungkan Data dan empati dalam mengambil keputusan bisnis)

**

Adrian, anak saya yang ketiga sedang liburan di Indonesia. Kesempatan untuk banyak menghabiskan waktu, nonton film, makan bareng, dan tentu saja diskusi “father-son bonding”.

“Papa, kan dulu kuliah Computer Sciences. Sekarang jadi Human Resources, apakah tidak mempengaruhi bagaimana papa menganalisa dan mengambil keputusan?”

“Maksud Adrian?

“Kan kalau orang computer mengambil keputusan berdasarkan data, kalau orang Human Resources harus penuh dengan empati. Terus, bagaimana sekarang papa menganalisa masalah dan mengambil keputusan?”

“Justru itu, kita gak boleh mengambil keputusan dengan emosional saja. Harus berdasarkan data dan empati..”

**

Di Eropa, para pemain saham, sering berkata,”*Support with your hearts, bet with your brain*!”. Boleh saja kita menyukai sebuah perusahaan, tapi kalau main saham tetap harus memakai data!

Dalam mengambil keputusan seorang leader juga harus *menggabungkan factor data dan factor intuisi*.  Keputusan bisnis yang berkualitas bukanlah keputusan yang hanya benar secara analitis, tetapi juga yang akan berhasil dijalankan dengan lancar. 

Contoh, seorang CEO perusahaan yang menjadi produser album music, dia mempunyai passion terhadap music jenis tertentu. Tetapi saat memutuskan album yang akan diluncurkan, tetap harus memperhatikan data tentang market trend yang disukai pelanggan.

Misalnya, seorang Operations Director yang harus melakukan pengurangan tenaga kerja (karena bisnis perlu survive terus padahal volume penjualan turun terus menerus), dia harus memperhatikan data trend penjualan, data jumlah karyawan, dan data-data lain untuk mengambil keputusan. Tetapi harus mengkomunikasikan dengan penuh empati, agar implementasi berjalan lancar.

Seorang pemimpin harus mampu menggabungkan dua jenis kecerdasan: 

Intelligence Quotient (IQ): berpikir rasional, analitis, berbasis data.

Emotional Quotient (EQ): memahami emosi, membangun kepercayaan, dan mempengaruhi orang lain.

**

Adrian bertanya lagi,”Apakah karena itu Papa kadang berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain? Karena factor brain dan heart?”

“Absolutely. Papa harus menggabungkan otak dan hati. Kalau hanya mikir hati, papa bisa terlalu sayang sama perusahaan, dan meskipun tidak ada kemajuan, tidak ada promosi, tidak ada learning, papa mungkin saja akan stay. Padahal dalam hidup harus ada progress (kemajuan).

So, I love every company that I ever work for (with my heart), dan saya akan bekerja semaximal mungkin dan berkontribusi semaximal mungkin untuk mereka. Setelah beberapa tahun saya memberikan kontribusi, saya harus mengambil keputusan (with my brain), perusahaan mana yang tepat untuk tujuan berikutnya agar saya semakin maju!”


**

Saya menyebutnya sebagai Model Head–Heart–Hands, yaitu keputusan yang dipikirkan dengan kepala, dipertimbangkan dengan hati, dan dieksekusi dengan tindakan yang tepat. Bagaimana caranya?

1) *Mulailah dengan Data (Head)*

Pertama-tama, tanyakan: "Apa yang saya ketahui?". Kumpulkan data dan informasi secara objektif. Misalnya: laporan keuangan, data penjualan, market share, tren industry, biaya, proyeksi keuntungan.

**

2) *Pahami Dampaknya terhadap orang lain (Heart)*

Setelah data jelas, tanyakan: "Siapa yang akan terdampak?". Misalnya: pelanggan, karyawan, investor, supplier, masyarakat.   Kemudian pikirkan: Bagaimana mereka akan merasakan keputusan ini? Apa kekhawatiran mereka? Bagaimana menjaga kepercayaan mereka? Apa bentuk komunikasi yang paling tepat? Keputusan yang sama dapat diterima atau ditolak tergantung bagaimana orang merasakannya.

**

3) *Pisahkan Emosi dari Ego*

Sering kali yang mengganggu keputusan bukan emosi, melainkan ego. Pemimpin yang baik bertanya: "Apa keputusan terbaik bagi organisasi, bukan bagi ego saya?" Ini adalah inti dari kecerdasan emosional: mampu mengenali perasaan pribadi tanpa membiarkannya mengendalikan keputusan.

**

4) *Uji Keputusan dengan Empat Perspektif*

Sebelum memutuskan, gunakan empat pertanyaan berikut:

- Rasional: “Apakah keputusan ini didukung oleh fakta?”

- Strategis: “Apakah keputusan ini mendukung tujuan jangka panjang?”

- Emosional: “Bagaimana keputusan ini akan memengaruhi kepercayaan, motivasi, dan hubungan?”

- Etika,”Apakah keputusan ini adil dan sesuai dengan nilai-nilai yang dianut perusahaan?”

**

5) *Kelola Emosi Sebelum Mengambil Keputusan*. Jangan mengambil keputusan penting ketika sedang: marah, kecewa, takut, sangat gembira, atau berada di bawah tekanan ekstrem.

Gunakan prinsip sederhana: Feel → Pause → Think → Decide. Rasakan emosinya, beri jeda, pikirkan secara jernih, baru putuskan.

**

6) *Libatkan Berbagai Sudut Pandang*

Pemimpin yang jarang mengambil keputusan besar sendirian. Mintalah masukan dari: tim operasional, keuangan, SDM, pemasaran, pelanggan (jika relevan). Ini membantu mengurangi bias dan memperkaya perspektif.

**

7) Komunikasikan dengan Empati

Keputusan yang benar bisa gagal jika dikomunikasikan dengan buruk.

Bandingkan dua pendekatan: Pendekatan rasional saja. "Mulai minggu depan anggaran dipotong 20%."

Pendekatan rasional + emosional. "Kondisi bisnis mengharuskan kita lebih efisien agar perusahaan tetap sehat. Kami memahami perubahan ini tidak mudah. Karena itu kami akan menjelaskan alasan, mendengarkan masukan, dan mendukung setiap tim selama proses transisi." Keputusannya sama, tetapi dampaknya terhadap kepercayaan sangat berbeda.

**

Saya sering menggunakan kerangka sederhana berikut:

Head: Apa yang dikatakan data? Analisis, fakta, risiko

Heart: Apa dampaknya bagi manusia? Empati, budaya, motivasi

Hands: Apa tindakan terbaik dan bagaimana mengeksekusinya? Implementasi dan komunikasi.

Ketiga unsur ini harus berjalan bersama. Pemimpin bisnis terbaik bukanlah mereka yang memilih antara logika dan empati, melainkan mereka yang mampu menyeimbangkan keduanya. Logika membantu memilih arah yang paling menguntungkan dan berkelanjutan, sementara empati memastikan perjalanan menuju tujuan tersebut tetap menjaga kepercayaan, martabat, dan komitmen orang-orang yang terlibat. Seperti yang sering dikatakan dalam kepemimpinan modern: "*Think like an analyst, feel like a leader, and act with integrity*."

Artinya, analisis yang tajam membuat *keputusan menjadi tepat*, empati membuat *keputusan diterima*, dan integritas membuat *keputusan dihormati*. Itulah kombinasi yang membedakan seorang manajer yang baik dari seorang pemimpin yang sejati.

**

Salam Hangat,

Pambudi Sunarsihanto

HOW DO YOU LEARN?

17.28 0 Comments A+ a-

 

(Rules of 5 X 5)

**

Dalam diskusi hari itu di "Pierre", jalan Senopati, seorang teman saya (Nisa), dengan bangganya menyebutkan kekayaan bahasa Indonesia.

“Kalau orang Inggris, kan Cuma punya satu kata untuk menyebut RICE kan Mas? Orang Indonesia punya banyak kata untuk RICE mas. Padi, Gabah, beras, Nasi, bubur, Ketupat, Lontong, bacang, Arem-arem, Lemang, tepo dan lain-lain. Bahasa kita kaya kan Mas? Kita harus bangga kan?” katanya sambil tersenyum, saat makan “Filet Mignon”. Lucu juga, dia begitu bangga dengan bahasa Indonesia, tapi hari itu sambil minta di-coaching, nraktir saya Filet Mignon di “Pierre”😊

**

Dan itulah menariknya bahasa. Orang Eskimo berbicara bahasa Inuit. Dan mereka mempunyai 20 kata untuk menyebutkan salju: qanik = salju yg lagi turun dari langit, aput = salju yang sudah ngumpul di tanah, pukak = lapisan salju kristal keras di bawah salju barusastrugi = salju yang kebentuk ombak gara-gara angin kencang, aqilokoq = salju yangg turun pelan-pelan, dan lain sebagainya. Mengapa ada 20 kata untuk salju. Mereka butuh detail karena salju itu penting. Beda jenis salju = beda cara jalan, berburu, bikin rumah. Ternyata banyaknya kata untuk menggambarkan sesuatu menggambarkan pentingnya kata itu untuk sebuah bangsa atau peradaban.

Berarti kata salju penting bagi orang Eskimo dan kata nasi penting bagi orang Indonesia.

**

Sekarang kita lihat kata “SCIENCE”, dalam bahasa Indonesia. Ternyata dalam bahasa Indonesia, science itu adalah ILMU. Dan itu juga bukan kata asli bahasa Indonesia. Ternyata itu dari bahasa Arab, “ILM”, Tulisannya: → 'Ain - Lam – Mim. Bentuk dasarnya = 'ilm → artinya "pengetahuan, ilmu, understanding". Artinya orang Indonesia pun tidak punya satu kata asli dalam bahasa kita untuk menyebut “ilmu”.

**

Kalau orang Eskimo punya 52 kata untuk menyebut salju, karena salju itu penting. Orang Indonesia punya 12 kata untuk menyebut nasi, karena nasi penting. 


Coba kita perhatikan kata science dalam bahasa Inggris, yang ternyata dalam bahasa Indonesia adalah ilmu, dan ternyata lmu bukan kata asli Bahasa Indonesia tetapi kata aslinya berasal dari bahasa Arab. Sayangnya tidak ada satu katapun untuk menyebut kata science atau ilmu. (ini fakta!). Mungkin karena dianggap tidak penting. Mungkin karena itu riset dan ilmu pengetahuan kita kurang maju dibandingkan dengan yang lain.

Fakta lain adalah pada saat orang-orang Indonesia, bepergian ke tempat keramaian, kita pergi mencari makanan (seringkali nasi), mungkin mencari pakaian, tetapi sedikit sekali yang mencari buku (atau ilmu pengetahuan). Padahal saya dan anak anak saya masih sering jalan-jalan, dan mengunjungi toko buku di Seoul, Lisbon, New York, Helsinki dan kota-kota lain. Sayangnya jumlah toko buku Indonesia berkurang, yang ada pun kecil-kecil. Menyedihkan ? Iya!

**

Tetapi kita tetap harus optimis. Kita harus mengejar ketinggalan. Kita tetap harus terus menerus belajar. Karena dunia yang makin tidak pasti, dan terus menerus berubah. Menambah ILMU kita, bersiap menghadapi perubahan. Build your agility. Salah satunya dengan membaca buku. Tetapi kalau satu satunya cara anda belajar adalah dengan membaca buku, anda juga akan ketinggalan. Ingat banyak buku yang diterbitkan lima tahun yang lalu, berdasarkan penelitian yang dilakukan 10 tahun yang lalu, oleh pengarang yang lulus kuliah 20 tahun yang lalu. Informasi berubah begitu cepat, berarti anda tetap harus membaca buku, dan anda juga harus melengkapi learning anda dengan cara cara lain.

**

Apa saja yang bisa kita lakukan? Ikuti beberapa tips di bawah ini:

1. Find 5 experts in your field, reach-out to them

Di bidang apapun anda bekerja (Marketing, Sales, HR, Logistic , asuransi atau apapun), carilah lima expert yang paling terkenal dalam bidang itu. Kenalan sama mereka, ikuti blog mereka, ikuti seminar mereka, beli buku mereka. Learn everything about them. Learn from them Mereka sudah sukses di bidang anda, berarti mereka sudah melakukan langkah langkah yang tepat. Pelajari mereka, tiru apa yang mereka lakukan, adaptasikan atau perbaiki bila perlu.

**

2. Read 5 leading books in your field

Baca lima textbook yang paling terkenal dalam bidang yang anda tekuni . Catat topik yang paling relevan dengan apa yang sedang anda hadapi di pekerjaan. Coba terapkan metode itu dan pelajari hasilnya. Share pengalaman itu dengan yang lain.

**

3. Attend 5 trainings, seminars or workshop every year

Jangan menjadi katak di bawah tempurung. Ambil cuti kantor. Minimal dalam setahun ikutilah 5 training, seminar atau workshop dalam bidang yang anda tekuni. Kalau di antara pembaca saya ada yang nanya," Pak, tapi budget training di kantor kami terbatas pak". Saya akan bilang,"Sometimes you have to pay it by yourself!". Ini untuk karier anda sendiri! Jangan hanya berharap pada kantor untuk mbayarin pengembangan karier anda. Kalau dibayarin kantor, bagus ! Kalau enggak ya bayar sendiri. Tahun 2002 saya pernah ambil kuliah MBA dan saya bayar sendiri puluhan ribu USD (saya kredit dan nyicil bertahun tahun). Itu adalah investasi terbaik dalam hidup saya! ROI nya besar, dan masih terasa sampai sekarang. Ingat! "Apa yang anda investasikan di otak anda, hasilnya akan tumbuh di didompet anda" When you invest in your brain, you will get the result in your wallet in the future!

**

4. Join 5 communities in your field

Dunia berubah begitu cepat, banyak sekali best practice yang kita bisa pelajari. Ikutlah community (yang bertemu regular ataupun menggunakan social media), ikutlah lima community. Saya tahu banyak yang ikut WA group temen-temen SD, SMP, SMA, universitas, temen temen bekas kantor lama, RT/RW , keluarga besar dan sepupu, wadhuh banyak amat groupnya? mendingan ikut community profesi anda yang jelas jelas anda akan belajar banyak di situ dan menambah market value anda. Share your experiences there and learn from others (the professionals who work in the same field).

**

5. Write 1 article every 5 days: keep it or publish-it!

Nah, dengan melakukan langkah langkah di atas anda sudah belajar banyak kan? Now it is time go share.

Tulislah satu artikel setiap lima hari. Apapun yang kita baca, atau kita pelajari di seminar , atau dari expert yang kita tahu, atau apa yang kita lakukan di kantor. Selalu ada yang pelajari. Tulis 1 halaman, 2 halaman atau 3 halaman, terserah. Kalau kita belum percaya diri, simpan dulu untuk diri sendiri. Kalau cukup percaya diri, Taruh di Facebook, :LinkedIn atau Instagram anda. Daripada tiap hari upload foto kuliner , debat politik di sosmed atau komplain tentang harga kebutuhan hidup yang naik, mendingan kita menyebarkan aura positif dengan menuliskan sedikit artikel sharing tentang pengetahuan atau pengalaman anda. Minimal anda bisa sharing tentang ringkasan satu bab di buku yang anda baca.

Percayalah, dengan menulis dan sharing, ilmu anda akan bertambah! Dan menbuat anda bersemangat untuk belajar lagi!


**

Salam Hangat


Pambudi Sunarsihanto