HOW DO YOU LEARN?

17.28 0 Comments A+ a-

 

(Rules of 5 X 5)

**

Dalam diskusi hari itu di "Pierre", jalan Senopati, seorang teman saya (Nisa), dengan bangganya menyebutkan kekayaan bahasa Indonesia.

“Kalau orang Inggris, kan Cuma punya satu kata untuk menyebut RICE kan Mas? Orang Indonesia punya banyak kata untuk RICE mas. Padi, Gabah, beras, Nasi, bubur, Ketupat, Lontong, bacang, Arem-arem, Lemang, tepo dan lain-lain. Bahasa kita kaya kan Mas? Kita harus bangga kan?” katanya sambil tersenyum, saat makan “Filet Mignon”. Lucu juga, dia begitu bangga dengan bahasa Indonesia, tapi hari itu sambil minta di-coaching, nraktir saya Filet Mignon di “Pierre”😊

**

Dan itulah menariknya bahasa. Orang Eskimo berbicara bahasa Inuit. Dan mereka mempunyai 20 kata untuk menyebutkan salju: qanik = salju yg lagi turun dari langit, aput = salju yang sudah ngumpul di tanah, pukak = lapisan salju kristal keras di bawah salju barusastrugi = salju yang kebentuk ombak gara-gara angin kencang, aqilokoq = salju yangg turun pelan-pelan, dan lain sebagainya. Mengapa ada 20 kata untuk salju. Mereka butuh detail karena salju itu penting. Beda jenis salju = beda cara jalan, berburu, bikin rumah. Ternyata banyaknya kata untuk menggambarkan sesuatu menggambarkan pentingnya kata itu untuk sebuah bangsa atau peradaban.

Berarti kata salju penting bagi orang Eskimo dan kata nasi penting bagi orang Indonesia.

**

Sekarang kita lihat kata “SCIENCE”, dalam bahasa Indonesia. Ternyata dalam bahasa Indonesia, science itu adalah ILMU. Dan itu juga bukan kata asli bahasa Indonesia. Ternyata itu dari bahasa Arab, “ILM”, Tulisannya: → 'Ain - Lam – Mim. Bentuk dasarnya = 'ilm → artinya "pengetahuan, ilmu, understanding". Artinya orang Indonesia pun tidak punya satu kata asli dalam bahasa kita untuk menyebut “ilmu”.

**

Kalau orang Eskimo punya 52 kata untuk menyebut salju, karena salju itu penting. Orang Indonesia punya 12 kata untuk menyebut nasi, karena nasi penting. 


Coba kita perhatikan kata science dalam bahasa Inggris, yang ternyata dalam bahasa Indonesia adalah ilmu, dan ternyata lmu bukan kata asli Bahasa Indonesia tetapi kata aslinya berasal dari bahasa Arab. Sayangnya tidak ada satu katapun untuk menyebut kata science atau ilmu. (ini fakta!). Mungkin karena dianggap tidak penting. Mungkin karena itu riset dan ilmu pengetahuan kita kurang maju dibandingkan dengan yang lain.

Fakta lain adalah pada saat orang-orang Indonesia, bepergian ke tempat keramaian, kita pergi mencari makanan (seringkali nasi), mungkin mencari pakaian, tetapi sedikit sekali yang mencari buku (atau ilmu pengetahuan). Padahal saya dan anak anak saya masih sering jalan-jalan, dan mengunjungi toko buku di Seoul, Lisbon, New York, Helsinki dan kota-kota lain. Sayangnya jumlah toko buku Indonesia berkurang, yang ada pun kecil-kecil. Menyedihkan ? Iya!

**

Tetapi kita tetap harus optimis. Kita harus mengejar ketinggalan. Kita tetap harus terus menerus belajar. Karena dunia yang makin tidak pasti, dan terus menerus berubah. Menambah ILMU kita, bersiap menghadapi perubahan. Build your agility. Salah satunya dengan membaca buku. Tetapi kalau satu satunya cara anda belajar adalah dengan membaca buku, anda juga akan ketinggalan. Ingat banyak buku yang diterbitkan lima tahun yang lalu, berdasarkan penelitian yang dilakukan 10 tahun yang lalu, oleh pengarang yang lulus kuliah 20 tahun yang lalu. Informasi berubah begitu cepat, berarti anda tetap harus membaca buku, dan anda juga harus melengkapi learning anda dengan cara cara lain.

**

Apa saja yang bisa kita lakukan? Ikuti beberapa tips di bawah ini:

1. Find 5 experts in your field, reach-out to them

Di bidang apapun anda bekerja (Marketing, Sales, HR, Logistic , asuransi atau apapun), carilah lima expert yang paling terkenal dalam bidang itu. Kenalan sama mereka, ikuti blog mereka, ikuti seminar mereka, beli buku mereka. Learn everything about them. Learn from them Mereka sudah sukses di bidang anda, berarti mereka sudah melakukan langkah langkah yang tepat. Pelajari mereka, tiru apa yang mereka lakukan, adaptasikan atau perbaiki bila perlu.

**

2. Read 5 leading books in your field

Baca lima textbook yang paling terkenal dalam bidang yang anda tekuni . Catat topik yang paling relevan dengan apa yang sedang anda hadapi di pekerjaan. Coba terapkan metode itu dan pelajari hasilnya. Share pengalaman itu dengan yang lain.

**

3. Attend 5 trainings, seminars or workshop every year

Jangan menjadi katak di bawah tempurung. Ambil cuti kantor. Minimal dalam setahun ikutilah 5 training, seminar atau workshop dalam bidang yang anda tekuni. Kalau di antara pembaca saya ada yang nanya," Pak, tapi budget training di kantor kami terbatas pak". Saya akan bilang,"Sometimes you have to pay it by yourself!". Ini untuk karier anda sendiri! Jangan hanya berharap pada kantor untuk mbayarin pengembangan karier anda. Kalau dibayarin kantor, bagus ! Kalau enggak ya bayar sendiri. Tahun 2002 saya pernah ambil kuliah MBA dan saya bayar sendiri puluhan ribu USD (saya kredit dan nyicil bertahun tahun). Itu adalah investasi terbaik dalam hidup saya! ROI nya besar, dan masih terasa sampai sekarang. Ingat! "Apa yang anda investasikan di otak anda, hasilnya akan tumbuh di didompet anda" When you invest in your brain, you will get the result in your wallet in the future!

**

4. Join 5 communities in your field

Dunia berubah begitu cepat, banyak sekali best practice yang kita bisa pelajari. Ikutlah community (yang bertemu regular ataupun menggunakan social media), ikutlah lima community. Saya tahu banyak yang ikut WA group temen-temen SD, SMP, SMA, universitas, temen temen bekas kantor lama, RT/RW , keluarga besar dan sepupu, wadhuh banyak amat groupnya? mendingan ikut community profesi anda yang jelas jelas anda akan belajar banyak di situ dan menambah market value anda. Share your experiences there and learn from others (the professionals who work in the same field).

**

5. Write 1 article every 5 days: keep it or publish-it!

Nah, dengan melakukan langkah langkah di atas anda sudah belajar banyak kan? Now it is time go share.

Tulislah satu artikel setiap lima hari. Apapun yang kita baca, atau kita pelajari di seminar , atau dari expert yang kita tahu, atau apa yang kita lakukan di kantor. Selalu ada yang pelajari. Tulis 1 halaman, 2 halaman atau 3 halaman, terserah. Kalau kita belum percaya diri, simpan dulu untuk diri sendiri. Kalau cukup percaya diri, Taruh di Facebook, :LinkedIn atau Instagram anda. Daripada tiap hari upload foto kuliner , debat politik di sosmed atau komplain tentang harga kebutuhan hidup yang naik, mendingan kita menyebarkan aura positif dengan menuliskan sedikit artikel sharing tentang pengetahuan atau pengalaman anda. Minimal anda bisa sharing tentang ringkasan satu bab di buku yang anda baca.

Percayalah, dengan menulis dan sharing, ilmu anda akan bertambah! Dan menbuat anda bersemangat untuk belajar lagi!


**

Salam Hangat


Pambudi Sunarsihanto