HOW LEADERS DEVELOP OTHER GREAT LEADERS
Beberapa waktu lalu, seorang CEO dari salah satu perusahaan nasional ternama datang dan bercerita kepada saya, saat dinner di sebuah Restaurant Perancis di Jakart Selatan. Sebut saja namanya Pak Lukas (bukan nama sebenarnya).
Setelah berbasa-basi sambil makan snack di depan kami, dia pun mulai bercerita.
“Saya punya masalah,” kata Pak Lukas, “Bisnis kami berkembang sangat cepat. Kami akan membuka beberapa anak usaha baru. Tetapi saya kekurangan leader yang siap dipromosikan menjadi C-level.”
Yang menarik, perusahaannya sebenarnya sudah menghabiskan banyak uang untuk training dan leadership development.
*
Saya tersenyum, sambil minum orange juice di depan saya. Kebetulan saya pernah bekerja sebagai HR Director di beberapa perusahaan market leader, di industry yang berbeda-beda. Masalah ini cukup klasik. “Pak Lukas, mungkin masalahnya bukan kurang training. Mungkin kita kekurangan leaders yang bisa men- develop leaders yang lain.”
**
Saya kemudian bercerita tentang sepak bola. Lihat Manchester United dan Arsenal. Setelah Sir Alex Ferguson meninggalkan Manchester United pada 2013, klub tersebut mengalami masa panjang yang penuh pergantian pelatih dan kesulitan mengembalikan dominasi era Ferguson.
Sebaliknya, Arsenal di bawah Arsène Wenger meninggalkan warisan leadership yang berbeda. Banyak mantan pemain Wenger kemudian masuk ke dunia kepelatihan. Patrick Vieira, Cesc Fà bregas, Jack Wilshere, dan tentu saja Mikel Arteta berkembang menjadi coach atau manager. Bahkan Arteta akhirnya membawa Arsenal menjadi juara Premier League 2025/26.
**
Ini bukan berarti Sir Alex bukan leader yang baik. Jelas dia salah satu yang terbaik. Tetapi anak didiknya, Wayne Rooney, Ryan Giggs, Solkjaer, Scholes, Neville, dan Van Nielstroy, semuanya gagal total sebagai pelatih, ada yang turun divisi, banyak yang dipecat
Tetapi ada satu pelajaran penting: Great leader tidak hanya menghasilkan great performance. Great leader menghasilkan great leaders.
**
Dalam leadership, ada beberapa hal critical:
1. *LEAD YOUR BUSINESS*
Pahami bisnis, pelanggan, kompetisi, angka, dan masa depan industri. Leader harus mampu membawa bisnis menuju hasil.
**
2. *LEAD YOUR TEAM*
Bangun trust, berikan direction, challenge people, dan ciptakan lingkungan di mana orang berani mengambil tanggung jawab.
**
3. *LEAD YOURSELF*
Sebelum memimpin orang lain, kita harus mampu memimpin diri sendiri: discipline, humility, resilience, dan continuous learning.
**
Tetapi berhenti di tiga hal tersebut belum cukup, konsep kepemimpinan ini juga perlu diteruskan dalam konsep pengembangan (development).
Ujung-ujungnya, all leader must *DEVELOP YOUR BUSINESS*
Jangan hanya menjaga bisnis hari ini. Cari peluang baru, bangun capability baru, dan siapkan bisnis untuk masa depan. Before you develop your business, you must *DEVELOP YOUR TEAM*. Jangan hanya bertanya, “Apakah targetnya tercapai?”. Tanyakan juga: “Siapa yang menjadi lebih hebat karena bekerja bersama saya?”. Berikan mereka exposure, challenging assignments, feedback, coaching, dan kesempatan mengambil keputusan.
And actually, before you develop your team, you have to *DEVELOP YOURSELF*. Leader yang berhenti belajar akan segera menjadi bottleneck bagi organisasinya. Teruslah membaca, belajar, mendengarkan, menerima feedback, dan berani mengubah cara berpikir.
**
Lalu bagaimana agar leaders di perusahaan kita benar-benar develop other great leaders?
Saya menyarankan ke pak Lukas, empat langkah sederhana:
**
a) *MAKE PEOPLE DEVELOPMENT PART OF THE JOB’s PRIORITY*
Developing people bukan pekerjaan HR. Itu pekerjaan setiap leader di dalam organisasi. HR bisa membantu dan menfasilitasi. But all leaders must be accountable for this.
**
b) *GIVE PEOPLE REAL RESPONSIBILITY*
Jangan hanya training. Berikan mereka proyek, keputusan, dan masalah nyata untuk diselesaikan.
**
c) *COACH, DON'T JUST INSTRUCT*
Jangan selalu memberikan jawaban. Ajukan pertanyaan yang membuat mereka berpikir dan menemukan jawabannya sendiri.
**
d) *MEASURE LEADERS BY THEIR SUCCESSORS*
Jangan hanya ukur leader dari business results. Ukur juga dari berapa banyak orang yang menjadi siap menggantikannya.
**
Karena pada akhirnya, legacy seorang leader bukan hanya apa yang dia capai. Tetapi juga siapa yang dia kembangkan untuk melanjutkan perjalanan setelah dia pergi.
The ultimate test of leadership is not: “How great are you?”
It is: “*How many great leaders did you create*?”
**
Salam hangat,
Pambudi Sunarsihanto

