7 courage that You need to have

13.04 0 Comments A+ a-

THE 7 COURAGES THAT YOU NEED

(7 KEBERANIAN YANG ANDA PERLUKAN)

By Pambudi S

Pagi itu saya makan pagi di Hotel Mulia bersama seorang konsultan dari Amerika yang sangat concern kepada pengembangan talent di Indonesia.
Sebut saja namanya Michael (bukan nama sebenarnya). Michael adalah seorang konsultan internasional yang pernah lama tinggal di Jerman, Perancis, China dan Singapore.
Michael juga sudah lama mempelajari karakteristik talent yang berbeda-beda dari berbagai negara di Asia termasuk Indonesia.
Tiba-tiba Michael bertanya,"What is the meaning of the 2 colors in your national flag?"
Dan saya pun menjelaskan bahwa Merah berarti "berani" dan Putih berarti "suci".
Pada saat mendengarkan kata "berani" atau "courage", Michael agak terkejut dan menginterupsi saya,"Excuse me... Are you sure it is courage?"
Saya bilang yes.
Michael bertanya lagi,"Are you sure that courage is one of the characters of the Indonesian?"
(Apakah saya yakin bahwa keberanian adalah karakter bangsa ini?).
Saya sebenarnya agak tersinggung mendengarkan pertanyaan ini, dan dalam hati saya bertanya ("maksud loe apa sih?")

Tetapi masih dengan tersenyum (hambar) saya menerangkan dengan sabar. Bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pemberani dan saya terangkan bagaimana heroic nya bangsa kita pada saat berperang melawan penjajah hanya dengan bermodalkan bambu runcing sementara penjajah kita mempunyai senjata yang lengkap dan modern.
"You have to admit , our people were extremely couragous...".

Michael mengangguk setuju. Kemudian dia bertanya,"When was it?"
Saya menjawab bahwa perjuangan melawan penjajah itu kita lakukan sejak beratus-ratus tahun sampai akhirnya kita memperoleh kemerdekaan kita pada tahun 1945.
Michael tersenyum,"So it was more than 70 years ago"

Kemudian Michael bertanya lagi... (sekarang semua diskusi akan saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia).
"Pambudi, kamu pernah bekerja di 7 negara. Kamu pernah travel ke 45 negara. Kamu bahkan pernah menjadi Head of Talent Development di Singapore, China dan Germany...., apakah memang menurut kamu talent talent di Indonesia paling pemberani dalam hal....
- bertanya di meeting
- mengemukakan pendapat
- men-challenge bossnya sendiri
- menawarkan solusi ...?

Apakah sebagian besar talent talent dari Indonesia melakukan hal hal di atas itu? Ataukah talent talent dari Indonesia lebih banyak duduk di pojok dan berdiam diri dan membiarkan peserta yang lain menyampaikan pendapatnya?

Saya pun termenung. Dan pembicaraan pagi itu menghantui pikiran saya beberapa hari sambil memikirkan pertanyaan Michael.

Bener juga ya....
Ternyata sebagian besar talent talent Indonesia kurang assertive, kurang confident dan kurang mampu articulate their communications (dan biasanya mereka maju pesat dalam kariernya).
Memang ada beberapa yang sudah confident, tapi sebagian besar masih masuk kategory "kurang pemberani".

Padahal dalam dunia bisnis global sekarang, anda tidak hanya dituntut untuk competent.
Competence alone will not bring you far away.
Untuk mengembangkan karier anda dituntut untuk juga mempunyai
- CONFIDENCE (percaya diri), dan
- COMMUNICATION skills
(mampu berkomunikasi dengan effective)

Terus bagaimana dong ?
Sudah waktunya mengganti mind set dan keluar dari paradigma lama seperti ini
- Tong kosong nyaring bunyinya (sekarang kita cari Tong berisi yang nyaring bunyinya)
- Diam itu emas ... (mungkin, tapi harga emas sudah turun..Jadi diam itu emas, bicara dengan baik itu  berlian)
- Padi makin tua makin merunduk (memangnya sakit pinggang, jadilah padi yang berisi dan berdiri tegak)
- Air beriak tanda tak dalam ...

Lihat betapa banyaknya peribahasa yang menyuruh kita diam seribu bahasa.
But the world has changed..
Dunia sudah berganti.
The paradigm has to be changed also.
Ingat, yang paling sukses bukannya yang paling pintar atau yang paling kuat, tapi yang paling mampu menyesuaikan diri dengan perbedaan.

So....mari kita tampil beda. Mari kita tampil berani.
Talk!
Share what you you think!
Propose your solutions!
If you dont talk, nobody will know how smart you are.
And if they dont know that you are smart, dont blame  them if they think you are stupid!
Anda bertanggung jawab untuk membentuk persepsi tentang anda sendiri.

Terus keberanian apa dong yang kita butuhkan di tempat kita bekerja ...
Kan ini juga bukan jamannya lagi untuk mengangkat bambu runcing dan maju ke medan perang.
Kita harus berjuang, tetapi dengan cara lain.
Kita tetap harus berani!

Berdasarkan pengamatan saya pada high potential talents yang sekarang menempati posisi puncak. Ini adalah keberanian yang mereka miliki

1. Dare to ask question

Mereka berani bertanya.
Karena mereka perduli dan care. Mereka ingin mengerti permasalahannya dan ingin membantu memberikan solusi meskipun itu di luar tanggung jawab mereka.
That's profesionalism.
Bukan hanya duduk termenung di pojok ruang meeting.

2. Dare to challenge

Pada saat seseorang menyampaikan solusi atau presentasi, mereka berani men-challenge.
Is it the best way to do things?
Is it the best way to achieve the objectives?
Mereka berani men-challenge anak buah mereka, men-challenge peer mereka, bahkan mereka berani men-challenge boss mereka.
(Mereka mampu men-challenge dengan cara yang sopan dan profesional).
Mereka tidak takut dinilai negative (karena men-challenge), because they know they have the good intention (to improve the situation).

3. Dare to propose a solution

Banyak orang yang bisa mengkritik.
Tapi jarang yang bisa memberikan solusi.
Padahal sebenarnya bisnis tidak memerlukan kritik.
In the end of the day, bisnis membutuhkan solusi.
Kalau satu-satunya yang anda bisa berikan adalah mengkritik, mungkin lebih baik anda diam.
Siapapun akan lebih suka orang yang menawarkan solusi dengan positive daripada hanya sekedar mengkritik.
Think from that angle, before you open your mouth

4. Dare to implement

Setelah anda memikirkan solusi, anda juga harus berani mengimplementasikanTake ownership.
Take charge of the implementation!
Jangan hanya ngomong banyak waktu brainstorming, tapi menghilang waktu diimplememtasikan.

5. Dare to receive feedback

Setelah anda mengimplementasikan, be open mind.
Terbukalah dengan kritik.
Terimalah feedback sebagai masukan untuk improve situation.
Don't take it personally.
Don't deny.
Don't be defensive.
Just listen, understand, filter, select and implement the ones that create significant improvement.

6. Dare to put team's interest first

Remember, a good professional put the team's interest before his own.
Ada pepatah China.
If you want to go fast, go by yourself.
If you want to go far, go with others.
Performance anda sangat tergantung dari performance team anda.
Be a sport, learn to play in a team.
It is  more fun and your career will progress accordingly.

7. Dare to learn everyday

Last but not least, learn new things everyday.
Dunia berubah,  bisnis anda berubah, kompetisi berubah petanya, perilaku consumer anda berubah.
Belajarlah, amatilah dan beradaptasilah!

Jadi ingat ya... untuk perform well dan progress in your career, anda harus memiliki 7 keberanian ini....

1. Dare to ask question
2. Dare to challenge
3. Dare to propose a solution
4. Dare to implement
5. Dare to receive feedback
6. Dare to put team's interest first
7. Dare to learn everyday

Kita coba yuk...
Dan mari kita tunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang pemberani, dulu (di jaman perang melawan penjajah) dan juga di masa sekarang dan di masa depan (di era kompetisi global).
We were couragous, and lets show that we are (and we will always be) couragous!
Ini akan mempercepat pengembangan talent talent Indonesia untuk terus menerus tampil di pentas global.



pemimpin yang keren

05.27 0 Comments A+ a-

*Pemimpin Keren Melakukan 6 Hal ini*

Banyak pemimpin yang dapat menginspirasi, namun hanya pemimpin yang kuat yang mampu mengarahkan seseorang untuk berbuat.

Tidak hanya sekedar membuat seseorang berpikir, namun mampu mengarahkan performa mereka. Pemimpin seperti inilah yang menarik.

Meskipun banyak pemimpin yang menarik, namun untuk menjadi menarik bukanlah hal yang mudah. Ini lebih daripada sekedar membentuk suatu tim ataupun perusahaan.

Ini juga lebih dari sekedar dapat menginspirasi banyak orang. Berikut akan dipaparkan kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin yang menarik, seperti yang dikutip dari Inc.com:


*1. Mereka menunjukkan kekuatan*

Pemimpin harus mampu menunjukkan kekuatan mereka sebagai seorang pemimpin. Kelemahan biasanya datang dari karakter, namun seringkali datang dari kurangnya rasa percaya diri.

Pemimpin yang menarik mampu mewujudkan dan berkomitmen atas apa yang ia sampaikan, sehingga mampu membangun rasa percaya. Kekuatan mereka cukup besar tidak hanya untuk dilihat tetapi juga untuk dipelajari.


*2. Mereka menunjukkan empati*

Banyak pemimpin yang mempergunakan gaya kepemimpinan yang otoriter. Namun pemimpin yang menarik biasanya tidak membutuhkan otoritas. Sebaliknya, mereka mempergunakan empati untuk mampu menginspirasi orang lain.

Mereka mempelajari bagaimana cara menggerakkan orang lain dan apa yang mereka butuhkan, sehingga mereka mampu mengetahui bagaimana sebenarnya mereka.

Mereka lebih memilih untuk berbagi daripada sekedar memberi tahu, mereka mampu untuk menarik minat orang lain dan kemudian memotivasi mereka untuk terlibat.


*3. Mereka menginspirasi dengan visi*

Pemimpin yang menarik mampu menyusun visi yang baik. Mereka mampu menggambarkan visi mereka dengan jelas, mempergunakan bahasa yang lugas dan mengaitkannya dengan emosi.

Sehingga hal ini membuat apa yang ia maksud dapat ditangkap dengan jelas.


*4. Mereka mendorong aksi*

Pemimpin dinilai berdasarkan seberapa banyak tim mereka melakukan action.

Sedangkan pemimpin yang menarik tidak hanya mampu menarik banyak anggota tim namun juga memilih untuk membentuk tim hanya dengan orang-orang proaktif yang mampu mengendalikan diri dan memiliki tujuan.

Tim dengan pemimpin yang menarik menyelesaikan tugas mereka dengan cara yang menyenangkan dan kekeluargaan sehingga meningkatkan pengalaman dan kinerja mereka.


*5. Mereka mendapatkan respect*

Pemimpin yang menarik mendapatkan otoritas berdasarkan performa mereka dan relasi mereka dengan orang lain.

Mereka dihormati oleh orang lain melalui tindakan dan koneksi mereka. Sehingga orang lain meyakini bahwa pemimpin ini layak didengar dan diikuti.

Mereka mungkin tidak dapat menjawab semua pertanyaan yang ditujukan pada mereka, namun mereka tahu bagaimana caranya untuk bergerak maju secara rendah hati.


*6. Mereka menanamkan kepercayaan diri*

Banyak pemimpin yang mampu mengarahkan namun tidak memberikan dukungan untuk mencapai tujuan.

Pemimpin yang baik mampu memastikan bahwa semuanya sudah tersedia. Mereka memastikan bahwa setiap orang dalam tim mereka siap secara fisik dan mental agar tim mereka dapat survive saat menghadapi masalah.

Suatu individu kepercayaan dirinya akan lebih meningkat ketika mereka memiliki pengetahuan dan hal lain yang mereka butuhkan untuk mencapai kesuksesan.


Semoga bermanfaat #BSS

*”Berubahlah, Sebelum Perubahan Itu Yang Akan Memaksa Anda.“*  -Jack Welch-


Sumber : http://portalhr.com/business-overview/leadership/pemimpin-keren-melakukan-6-hal-ini/

Bagus

19.44 0 Comments A+ a-

Ada seorang teman, Pak Bagus namanya. Beliau adalah seorang guru yang sangat ceria, menyenangkan dan kocak. Siapapun yang berada di dekatnya merasa gembira ria. Keunikannya adalah bahwa ia selalu berkata, "Bagus itu!" untuk segala hal. Di matanya segalanya adalah karunia.
Hujan? "Bagus itu, banyak berkah, saatnya berdoa."
Sakit? "Bagus itu, saatnya untuk beristirahat."
Tidak naik kelas? "Bagus itu, jadi kamu bisa belajar lebih dalam."

Dipecat? "Bagus itu, saatnya belajar sungguh-sungguh menjadi pengusaha."

Di sisi lain ia perfeksionis luar biasa. Ia bisa melihat kesalahan sampai titik koma sekalipun. Bedanya dengan guru lain, ia tak pernah marah hanya gara-gara kurang titik koma. Ia akan dengan sangat teliti memberikan masukan.
"Tulisan kamu bagus. Kamu cukup kritis dan analitis. Supaya lebih sempurna, coba pelajari bagaimana kamu bisa menyusun kata-kata agar lebih meyakinkan. Bagus itu, kamu jadi tahu dan bisa belajar lebih baik lagi."

"Bagus itu" tak pernah ketinggalan.

Baginya semua muridnya punya perjalanannya masing-masing. Tak ada yang bodoh, tak ada yang kurang ajar. Semua "bagus" dan bisa dibantu untuk "lebih bagus lagi." Di sinilah perannya sebagai seorang guru, untuk memberdayakan muridnya agar bisa mengeluarkan potensi terbesarnya. Sebagai guru ia memilih untuk menjadi fasilitator, bukan instruktur. Ia memilih untuk bertanya, dan bukan memerintah. Ia memberdayakan, bukan mengoreksi.

Hal yang sama dilakukannya juga untuk semua temannya. Tak ada korban gossip di matanya, karena semua orang "bagus" dan "hebat." Ia bisa melihat kebaikan dari semua hal-hal sampai yang terkecil. Istrinya, anaknya, teman-temannya, semua adalah berlian-berlian dalam hidupnya yang benar-benar disyukurinya. Tak ada yang buruk, semua bagus.

Pak Bagus tak bisa dibilang ganteng, tapi melihat wajahnya semua orang merasa teduh. Wajah yang senyum terus.
Ia tak bisa dibilang kaya raya, tapi ia selalu sejahtera, selalu bisa berbagi dan menjadi tangan di atas. Rejekinya adaaaaa saja. Seakan keberuntungan selalu ada di pihaknya. "Hoki" kalau kata orang.
Ia jarang sakit, dan keluarganya pun jarang sakit. Jadi hemat sekali mereka sebagai keluarga.

Itulah dia Pak Bagus, sebuah karunia bagi semua yang ada di sekitarnya.
Karena kita semua tak bisa mengeluh, tak bisa bergossip, tak bisa marah, karena semua dijawab dengan, "Bagus itu!"
Dan teman-temannya yang sudah siap mengeluh pun jadi berfikir, "Ia juga ya. Keluhanku itu sebenarnya bagus. Kenapa nggak terfikir kemarin-kemarin ya?"

Nah, teman-teman, kalau ada yang mau mengeluh, bayangkan ada Pak Bagus di samping dan langsung saja bilang, "Bagus itu." Itu dulu. Nanti otak kita akan langsung mencerna dan mencari "bagusnya" di mana. Otak pintar kok. Ia akan menyesuaikan diri pada kata-kata kita.
Kalau ada yang mau gossip dekat kita, langsung jawab, "Dia suka marah-marah? Bagus itu. Jadi kita tahu dimarahin itu nggak enak. Sekarang kamu punya jalan dapat pahala kan?"
Kalau ada yang kesal gara-gara kehilangan barang, "Bagus itu. Siapa tahu kamu kurang sedekah. Bagus cuma kehilangan barang itu. Kalau Allah ambil yang lebih besar gimana?"
Ada yang nangis baru bercerai, "Bagus itu. Kamu bisa cari yang lebih bagus lagi."

Semua bagus...
Karena semua kejadian terjadi atas izinNya dan dihadirkan olehNya untuk kebaikan kita semua. Kita saja yang seringkali sulit mencari hikmah di balik semua kejadian.
Semua orang pun baik apa adanya, karena diciptakan oleh Sang Maha Bagus. Semua dihadirkan dalam kehidupan kita sebagai pelajaran, agar kita bisa lebih bagus lagi dalam hidup, lebih dekat lagi padaNya dalam setiap kondisi, bersama siapapun yang diberikannya dalam hidup kita.

Semua bagus. Semua indah. Alhamdulillah untuk semuanya.

Malcolm Baldridge

14.51 0 Comments A+ a-


Organizational Development tools : Malcolm Baldrige Assessment

Malcolm Baldrige National Quality Award (MNBQA) sangat dikenal di seluruh dunia sebagai award yang diberikan sebagai penghargaan kepada perusahaan/organisasi atas pencapaian kinerja yang bermutu tinggi.

Saat ini puluhan ribu perusahaan di 70 negara di dunia menerapkan atau mengadobt metode yang dikenal juga dengan nama Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellent (MBCfPE).

Indonesia juga mengadopsi MBCfPE dan dijadikan Indonesian Quality Award (IQA) sebagai penghargaan atas kinerja BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Bahkan beberapa perguruan tinggi di Indonesia juga menerapkan Baldrige Assessment ini.

Terdapat tujuh kategori yang dinilai dalam Baldrige Assessment, yaitu:
1. Kepemimpinan/ Leadership (120 poin)

2. Perencanaan Strategik/ Strategic Planning (85 poin)

3. Fokus Pelanggan/ Customer Focus (85 poin)

4. Pengukuran, Analisis, dan Manajemen Pengetahuan/ Measurement, Analysis, and Knowledge Management (90 poin)

5. Fokus Tenaga Kerja/ Workforce Focus (85 poin)

6. Fokus operasi kerja/ Operation Focus (85 poin)

7. Hasil-hasil/ Results (450 poin)

Skor total dari Baldrige assessment adalah 1000 poin. Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing kriteria dalam Baldrige assessment :

1. Leadership (120 poin)

Kepemimpinan menunjukkan bagaimana para pemimpin senior bisa memandu dan menopang organisasi, mengatur visi organisasi, nilai-nilai, dan ekspetasi performance. Perhatian diberikan kepada bagaimana para pemimpin senior berkomunikasi dengan staff, mengembangkan masa depan para pemimpin, dan menciptakan suatu lingkungan yang mendorong perilaku etis dan formance yang tinggi.

Kategori ini juga meliputi sistem penguasaan organisasi, di mana penguasaan organisasi dilakukan secarara sah dan bertanggung jawab etis kepada publik, mendukung masyarakatnya, dan juga menyokong kesehatan masyarakat. Kategori Leadership dibagi ke dalam dua sub kategori/item yang akan dijelaskan sebagai berikut :

a. Senior Leadership (70 poin)
Item penilaian senior leadership menguraikan bagaimana para pemimpin senior memandu dan menopang organisasi. Item penilaian ini akan menggambarkan bagaimana para pemimpin senior berkomunikasi dengan mengorganisir dan mendorong performance yang tinggi. Dalam item ini terdapat dua poin yang akan menjadi acuan dalam proses scoring, yakni:

1) Vision, Values and Mission

2) Communication and Organizational Performance

b. Governance and Societal Responsibilities (50 poin)

Item penilaian Governance and Societal Responsibilities menguraikan mengenai sistem penguasaan organisasi. Item penilaian ini juga menguraikan bagaimana organisasi menunjukkan tanggung jawabnya kepada publik, memastikan perilaku etis, membangun hubungan yang baik, dan berperan untuk kesehatan masyarakat. Dalam item ini terdapat tiga poin yang akan menjadi acuan dalam proses scoring, yakni:

1) Organizational Governance

2) Legal and Ethical Behavior

3) Societal Responsibilities and Support of Key Communities

2. Strategic Planning (85 poin)

Kategori perencanaan strategis menguji bagaimana cara mengembangkan sasaran hasil dan rencana tindakan strategis. Hal yang juga diuji adalah bagaimana cara memilih sasaran hasil dan rencana tindakan yang strategis untuk disebarkan dan diubah jika keadaannya berubah, dan bagaiamana kemajuan dalam mengukurnya.

Kategori Strategic Planning kemudian dibagi kedalam dua item yaitu sebagai berikut:

a. Strategy Development (40 poin)

Item ini menguraikan bagaimana cara organisasi menetapkan strateginya dan sasaran hasil yang strategis, mencakup bagaimana menunjukkan tantangan strategis, meringkas sasaran hasil strategis dan tujuan.

Dalam item ini terdapat dua poin yang akan menjadi acuan dalam proses scoring, yakni:

1) Strategy Development Process

2) Strategic Objectives

b. Strategy Implementation (45 poin)

Stategy Implementation menguraikan bagaimana organisasi mengkonversi sasaran hasil yang strategis ke dalam rencana tindakan yang berhubungan dengan ukuran performance atau kunci indikator. Merancang organisasi untuk performance masa depan pada ukuran performance atau kunci indikator. Dalam item ini terdapat dua poin yang akan menjadi acuan dalam proses scoring, yakni:

1) Action Plan Development and Deployment

2) Performance Projections

3. Customers Focus (85 poin)

Fokus terhadap pelanggan menguji bagaimana suatu organisasi menentukan kebutuhan, harapan, dan pilihan pelanggan. Hal lainnya yang diuji adalah bagaimana organisasi membangun hubungan pelanggan, menentukan faktor pokok yang mendorong ke arah tujuannya, kepuasan dan kesetiaan pelanggan dan juga ekspansi ke pelayanan organisasi dan perluasan. Kategori ini selanjutnya dibagi lagi menjadi dua item, yaitu:

a. Voice of The Customer (45 poin)

Item ini menguraikan bagaimana organisasi menentukan kebutuhan, harapan, pilihan pelanggan dan juga pasar untuk memastikan keterkaitan jasa pelayananorganisasi dan mengembangkan peluang baru dalam bidang oragnisasi. Dalam item ini terdapat dua poin yang akan menjadi acuan dalam proses scoring, yakni:

1) Customer and Stakeholder Listening

2) Determination of Customer and Stakeholder Statisfaction and Engagement

b. Customer Engagement (40 poin)

Item ini menguraikan bagaimana organisasi membangun hubungan untuk memperoleh, mencukupi, dan mempertahankan pelanggan, meningkatkan kesetiaan dan untuk mengembangkan peluang baru bidang business organisasi. Item ini juga menguraikan bagaimana organisasi menentukan kepuasan customer. Dalam item ini terdapat dua poin yang akan menjadi acuan dalam proses scoring, yakni:

1) Organization Service Offering, Cusyomer and Stakeholder Support

2) Building Customer and Stakeholder Relationship

4. Measurement, Analysis, and Knowledge Management (90 poin)

Kriteria measurement, analysis, and knowledge ini menguji bagaimana suatu organisasi memilih, mendapatkan, menganalisa, mengatur, dan mengembangkan data, informasi, dan aset pengetahuan yang dimilikinya. Selain itu juga menguji bagaimana suatu organisasi meninjau ulang performanya. Dalam kriteria ini terdapat dua sub kriteria yang akan memudahkan penguji dalam melakukan scoring, yaitu:

a. Measurement, Analysis, and Improvement of Organization Performance (45 poin)

Menggambarkan bagaimana suatu organisasi mengukur, menganalisa, menyusun, meninjau ulang, dan mengembangkan performanya sebagai penyedia product pada semua level. Dalam item ini terdapat tiga poin yang akan menjadi acuan dalam proses scoring, yakni:

1) Performances Measeurement

2) Performances Analysis and Review

3) Performances Improvement

b. Management of Information, Knowledge, and Information Technology (45 poin)

Menggambarkan bagaimana suatu organisasi memastikan kualitas dan ketersediaan data dan informasi yang diperlukan oleh staff, supplier, partnerlain, pasien dan pelanggan lainnya. Selain itu, juga menngambarkan bagaimana suatu organisasi membentuk dan mengatur pengetahuan yang dimilikinya.

Dalam item ini terdapat dua poin yang akan menjadi acuan dalam proses scoring, yakni:

1) Data, Information, and Knowledge Management

2) Management of Information Resources and Technology

5. Workforce Focus (85 poin)

Kriteria workforce focus memeriksa kemampuan organisasi untuk menilai kapabilitas dan kapasitas tenaga kerja serta membangun lingkungan kerja yang kondusif untuk kinerja yang baik. Kriteria workforce focus juga melihat bagaimana organisasi menggerakkan, mengelola, dan mengembangkan potensi tenaga kerja sejalan dengan misi organisasi, strategi, dan rencana tindakan perusahaan. Terdapat dua sub kriteria yang akan memudahkan penguji melakukan scoring, yaitu:

a. Work Environment (40 poin)

Menggambarkan bagaimana organisasi mengatur kapabilitas dan kapasistas staff untuk menyelesaikan pekerjaan organisasi tersebut. Juga untuk menggambarkan bagaimana organisasi memelihara keselamatan, keamanan, dan iklim kerja yang mendukung. Dalam item ini terdapat dua poin yang akan menjadi acuan dalam proses scoring, yakni:

1) Kapabilitas dan kapasitas tenaga kerja

Meliputi pertanyaan tentang skill, kompetensi, dan level staff. Termasuk juga bagaimana merekrut staff baru, cara menyelesaikan pekerjaan, dan cara mempersiapkan staff untuk pergantian manajemen.

2) Iklim Kerja

Menggambarkan bagaimana suatu organisasi memelihara keselamatan, keamanan, dan lingkungan kerja yang mendukung. Juga menggambarkan bagaimana cara organisasi mengatur staffnya melalui kebijakan.

b. Workforce Engagement (45 poin)

Menggambarkan bagaimana organisasi bergerak, mengkompensasi, dan memberi penghargaan terhadap staff untuk mencapai kinerja tinggi. Selain itu juga menggambarkan penilaian terhadap keterlibatan tenaga kerja dan menggunakan hasilnya untuk mencapai kinerja tinggi. Workforce Engagement juga menggambarkan bagaimana staffdan pemimpin dikembangkan untuk mencapai kinerja yang tinggi.

Dalam sub kriteria ini terdapat tiga poin yang akan menjadi acuan dalam proses scoring, yakni:

1) Workforce performance

2) Assessment of workforce engagement

3) Workforce and leader development

6. Operation Focus (85 poin)

Kriteria ini menguji bagaimana organisasi mendesain, mengelola, dan meningkatkan kerja sistem dan proses kerja untuk kepuasan pelanggan/customer dan stakeholder serta mencapai keberhasilan organisasi dan keberlanjutannya. Selain itu juga menguji kesiapan organisasi untuk keadaan darurat. Terdapat dua sub kriteria yang akan memudahkan penguji dalam melakukan scoring.

a. Work System (45 poin)

Sub kriteria ini menguji bagaimana organisasi mendesain, mengelola, dan meningkatkan kerja sistem untuk kepuasan customer dan stakeholder. Juga menguji bagaimana organisasi menyiapkan diri untuk keadaan darurat dan mencapai keberhasilan yang berkelanjutan. Dalam sub kriteria ini terdapat tiga poin yang menjadi acuan scoring, yaitu;

1) Work system design

2) Work system management

3) Emergency readiness

b. Work Process (40 poin)

Sub kriteria ini menguji bagaimana organisasi mendesain, menegelola, dan meningkatkan kunci proses kerja untuk kepuasan customer dan stakeholder juga untuk menguji bagaimana cara mencapai keberhasilan yang berkelanjutan. Terdapat dua poin yang menjadi acuan dalam scoring, yaitu:

1) Work process design

2) Work process management

7. Organizational Performance Result (450 poin)
Kriteria ini menguji kinerja dan peningkatan dari organisasi dalam lingkup hasil dari layanan product yang diberikan, kepuasan customer, kinerja dari financial dan pasar, hasil-hasil dari staff dan sistem kerja, kinerja operasional, tanggung jawab kepemimpinan dan masyarakat. Tingkat dari kinerja ini juga akan diuji oleh para pesaing dan organisasi lainnya yang bergerak dalam bidang yang sama.

Dalam kriteria ini terdapat lima sub kriteria yang akan memudahkan penguji dalam melakukan scoring :
a. Organization and Process Outcomes (100 poin)

Merupakan hasil akhir dari kinerja pelayanan suatu organisasi dan juga merupakan hasil dari customer, dan pangsa pasar yang terkait.

Dalam sub kriteria ini terdapat tiga poin yang akan menjadi acuan dalam proses scoring, yakni:

1) Customer-focused organizatonal results

2) Operational process effectiveness results

3) Strategy implementation results

b. Customer-Focused Outcomes(90 poin)

Merupakan hasil-hasil yang berfokus pada customer dan stakeholder, termasuk kepuasan, ketidakpuasan, dan keterlibatan customer serta stakehorder. Juga menunjukkan hasil yang telah dicapai organisasi pada kelompok customer dan pangsa pasar yang terkait. Termasuk juga data perbandingan yang ada
c. Workforce-Focused Outcomes (80 poin)

Merupakan ringkasan dari hasil kunci workforce-focused untuk lingkungan kerja dan keterlibatan staff. Segmentasikan hasil tersebut untuk menyelasaikan masalah keberagaman staff dan kelompok-kelompok staff.

d. Leadership and Governance Outcomes (80 poin)

Merupakan kesimpulan dari hasil-hasil penguasa dari layanan organisasi, pemimpin senior, dan tanggung jawab masyarakat. Termasuk bukti dari tingkah laku yang etis, perhitungan pajak, pemenuhan yang legal, dan anggota organisasi. Segmen dari hasil-hasilnya adalah unit-unit organisasi yang terrkait.

e. Financial and Market Outcomes (80 poin)
Merupakan kesimpulan dari layanan organisasi pada masyarakat dan keuangan suatu organisasi sebagai hasil dari segmen pasar dan stakeholder atau pasien yang terkait. Termasuk data perbandingan yang ada.

Link berikut berisi contoh Baldride Assessment Criteria, baik di Amerika maupun di Phillpina (IQA-pun menggunakan criteria yang sama juga) :

https://drive.google.com/file/d/0BwuhtBsdbkNwSEtWSG1fOWdhVUU/view?usp=sharing
https://drive.google.com/file/d/0BwuhtBsdbkNwYTQwalcxcnhwZzg/view?usp=sharing

bagaimana menjual sisir kepada orang botak

17.44 0 Comments A+ a-

“BAGAIMANA MENJUAL SISIR KEPADA ORANG YANG BOTAK”
.
.
Sebuah perusahaan membuat tes terhadap tiga calon staf penjual barunya. Tesnya unik, yaitu: Menjual sisir di komplek Biara Shaolin!. Tentu saja, ini cukup unik karena para biksu di sana semuanya gundul dan tak butuh sisir.
.
.
Kesulitan ini juga yang membuat calon pertama hanya mampu menjual satu sisir. Itupun karena belas kasihan seorang biksu yang iba melihatnya.
.
.
Tapi, tidak dengαn calon kedua. Ia berhasil menjual 10 sisir, ia tidak menawarkan kepada para biksu, tetapi kepada para turis yang ada di komplek itu, mengingat angin di sana memang besar sehingga sering membuat rambut jadi awut-awutan.
.
.
Lalu bagaimana dengan calon ketiga? Ia berhasil menjual 500 sisir..!!
.
.
Caranya? Ia menemui kepala biara. Ia lalu meyakinkan jika sisir ini bisa jadi souvenir bagus untuk komplek biara tersebut. Kepala biara bisa membubuhkan tanda tangan di atas sisir-sisir tersebut dan menjadikannya souvenir para turis. Sang kepala biara pun setuju.
.
.
Sahabatku yang baik…
Apa yang sering kita anggap sebagai penghambat terbesar dlm usaha atau karier?
Bukankah kita sering kali menyalahkan keadaan?
Dan inilah yang membuat calon pertama gagal.
Sementara calon kedua, sudah berpikir lebih maju.
Namun ia masih terpaku pada fungsi sisir yang hanya sebagai alat merapikan rambut.
.
.
Tapi calon ketiga sudah berani berfikir di luar kotak ( THINKING OUT OF THE BOX ), berfikir diluar kelaziman. Dia bukan hanya berani berpikir bahwa sisir bukan hanya alat merapikan rambut, melainkan bisa menjadi souvenir.
.
.
Kita tidak bisa mengatur situasi seperti yang kita kehendaki.
Tapi, kita bisa mengerahkan segenap potensi kita untuk mencari solusi.
.
.
“Segenap potensi” bukan hanya terbatas otot atau kerja keras, tapi juga pikiran, ilmu, intuisi dan kerja cerdas.
Pendek kata, kreatifitas akal, ketekunan dan kesabaran .
Itulah potensi dalam diri kita yang dapat dipergunakan…

how to move your focus

23.05 0 Comments A+ a-


HOW TO MOVE YOUR FOCUS FROM THE "PAST" TO THE FUTURE ....

By Pambudi S

(Bagaimana memindahkan fokus anda dari masa lalu ke masa depan).

Dewi bekerja di sebuah perusahaan asing di Indonesia. Dia baru saja pulang setelah menyelesaikan 3 tahun  job rotasi dari Inggris.
Dan setelah 3 bulan di posisi ini, Dewi tidak bisa menyembunyikan frustasinya.
Setiap kali dia mengajak teamnya untuk memulai sesuatu inisiative baru, selalu saja teamnya menjawab,"But ... that's not how we did it in the past"
Tapi dulu kita tidak mengerjakan seperti itu.
Dan meskipun Dewi selalu berusaha menjelaskan bahwa mereka harus mengganti cara baru untuk mencapai objective yang baru, masih saja Dewi melihat "ketidakikhlasan" di mata mereka.
"I dont what to tell them, they really need to move their focus from the past to the future".

Sylvia juga baru saja pulang dari 5 tahun job rotasi di Australia. Sekarang dia adalah CEO dari sebuah perusahaan asing di Indonesia.
Pada saat dia tiba di Indonesia bulan September lalu, suasana bisnis sedang tidak kondusif.
Tahun lalu performance business mereka jeblok, jauh sekali di bawah apa yang seharusnya mereka capai.
Dan terpaksa Sylvia memutuskan tidak memberikan bonus kepada para karyawannya.
Sylvia mengirimkan strong message bahwa kalau tahun depan mereka mencapai performance business yang bagus, mereka akan mendapatkan bonusnya lagi.
Dan terjadilah perdebatan sengit di Board Room.
Semua Direktur lain menentang keras dan menyatakan
- Bahwa tahun tahun sebelumnya mereka selalu mendapatkan bonus
- Bahwa ini akan menyakiti hati karyawan (mereka tidak mencapai objective karena macro economi, mengapa karyawan terkena getah pahitnya)
- kalau bonus nggak dibayarkan karyawan yang bagus bagus bisa pergi dan join ke competitor.

Sylvia pun membantah dengan mengatakan,"But if we pay the bonus, we will set a bad precedent for the future"

Dan di sinilah masalahnya, ternyata yang lain befokus pada masa lalu ("But in the PAST, we always paid the bonus").
Dan Sylvia bilang ("We should not set the precedent for the FUTURE").
Again kita berada pada situasi di mana sebagian besar timnya berfokus pada masa lalu, sementara Sylvia berfokus pada masa depan.

Fons Trompenaars dalam bukunya "Riding the wave of culture" menuliskan bahwa memang beberapa bangsa itu lebih berorientasi ke masa lalu (India, China, Indonesia).
Sementara banyak bangsa-bangsa barat lebih berorientasi ke masa depan.
Waktu saya kuliah di Perancis tahun 1987, walikota Paris sudah mempunyai visi "Paris 2010".
Seorang teman saya yang bekerja di sebuah perusahaan Jerman sudah bisa menceritakan apa visi perusahaannya untuk tahun 2030, lengkap dengan 9 inisiatif yang akan mereka lakukan.
Looks how far beyond the create the vision for the future.
Sementara India masih saja mengulang-ulang cerita kejayaan Mahabarata, China mengulang-ulang kejayaan Dinasti Ming, dan Indonesia masih mengulang-ulang menceritakan masa kejayaan kerajaan Majapahit dan Sriwijaya.
Which is good, kita harus membangkitkan rasa confidence kita sebagai bangsa , dan kemudian harus segera mengganti fokus kita kepada masa depan!

Saya nggak yakin banyak yang bisa menjawab tentang "Indonesia itu akan seperti apa dalam 10 tahun ke depan?"
How does our country will look like in 10 years?

Jadi kita ini ternyata terlalu banyak fokus ke sejarah, dan lupa merencanakan masa depan.
Makanya beberapa pembangunan kita seperti tidak terarah.

Parahnya, masih juga mengingat-ingat masa lalu...
dulu kita jaya....
kita dulu adalah bangsa yang besar....
kayaknya presidennya lebih bagus presiden yang dulu (Sambil menggambar wajah presiden jaman dulu di truk truk Pantura dan menuliskan "enak jamanku mbiyen le")

Why do we even have to compare with him? It is in the past!
With all my respect to him, we cannot bring him back here, so lets move on and stop comparing with the past ....

By the way, this is valid for our country, our business, our career our family....
- Do you know how the company will look like in 3 years
- Do you know how your family will look like in 3 years
- do you know how your career will look like in 3 years

Use your past to create the inventory of your strength, to build a solid fondation for the future.

Gunakan masa lalu anda, untuk membuat inventory kekuatan anda yang akan menjadi fondasi yang kokoh untuk masa depan anda.

Bagi orang orang yang berfokus pada masa depan, long term goal akan menjadi dasar kegiatan dan aktivitas sehari hari.
This keeps them ambitiously working, saving, and planning for a better.

Future-focused people are more successful professionally and academically.


But if they focus too much on their future, they often do not fully appreciate the present. Think of the stereotype of the successful executive who is always too busy for his family. (Friends and family require your attention to be in the present.

On the other hand,
Present-focused people actively seek activities and relationships that bring pleasure, variety and short-term payoffs. They avoid anything requiring effort, maintenance, or routine. They’re playful and impulsive, engaging in leisure activities (until it becomes boring).

They are the least likely to be successful.

While some present-focus is needed to enjoy life, too much present-focus can compromise your life of the deeper happiness of accomplishment.

Tentu saja jawabannya adalah dengan mem-balance kan masa sekarang dan masa depan.

Terus bagaimana dong ... supaya kita bisa terus menerus perform well (and enjoy) during the present while focusing on the future?

1. Define your goals (what you want to achieve) in 3-5 years time
Pikirkan apa yang ingin anda capai dalam 3-5 tahun ke depan.

2. Define how you will achieve your goals (how, values, way of working, dos and dont)
Pikirkan bagaimana anda akan mencapainya? Anda tidak akan menghalalka  segala cara kan? Pikirkan apa yang anda boleh lakukan dan yang anda tidak boleh lakukan.

3. Work hard (while keeping yourself in the values that you defined)
Setelah rencana, plan dan strategy nya kelar, it is time to implement them.
Bekerjalah sekeras kerasnya untuk mencapai goal anda , tanpa melanggar nilai nilai yang sudah anda sepakati dengan diri anda sendiri.
You need to have strong commitment to yourself.

4. Balance the work hard and reward
Seimbangkan kerja keras anda dengan reward, take-a-break, hobby dan passion anda.

5. Continue to learn
Terus meneruslah belajar. Ikuti perkembangan terakhir.
Ubah cara anda memandang sebuah masalah.
Siapa tahu ada skills baru yang mempercepat kerja anda.
Siapa tahu goal anda harus diganti.
Siapa tahu anda harus pindah industry.
Siapa tahu anda harus menambah network baru.
Watch.
Listen.
Observe.
Learn.
Improve.


Selamat mencoba!