03.11 0 Comments A+ a-

A Strategy for Responding to Criticism using an NLP Approach

By Adithya Amidjaya

Salah satu presuposisi NLP yang terkenal adalah "there is no such thing as failure, only feedback", atau "tidak ada yang namanya kegagalan, yang ada adalah umpan balik". Pernyataan ini kedengarannya sangat bagus dan tentunya punya maksud positif.

Dan tahukah Anda bahwa hanya sedikit (kira-kira 10%) manusia yang benar-benar mempraktikannya? Mereka bisa mendengarkan kritik tanpa langsung merasa sakit hati. Mereka bahkan bisa mempertimbangkan dengan baik bila ada umpan balik positif dari kritik tsb, dan menggunakannya untuk memperbaiki perilakunya di masa depan dengan lebih produktif.

Kebanyakan (90%) manusia tidak bisa mengatasi kritik dengan efektif alias "baper", bahkan ada yang sangat ekstrim mempersoalkannya.

Oleh karena itu Steve dan Connirae Andreas (NLP Master Trainers) menemukan strategi ini sehingga kita bisa belajar menerima kritik dengan lebih baik.

Strategi ini menggunakan teknik disosiasi yang juga digunakan pada strategi fast phobia cure.

Berikut tahapan strateginya:

1. Install the strategy in a dissociated state
Imajinasikan melihat diri kita di depan sana. Kita bisa melihat diri kita tsb di posisi yang sangat jauh, dalam hitam putih, atau bisa dengan memunculkan pembatas plexiglass di depan kita, untuk memastikan kita di sini hanya sebagai observer.

2. Dissociate from the criticism
Perhatikan bahwa diri kita di sebelah akan menghadapi sebuah kritik, munculkan orang akan mengkritik di hadapannya. Lalu buatlah agar dia juga dissociate. Misalkan dengan cara menunculkan lagi diri kita (yg ketiga) di depan dirinya, seolah diri kita di sana sedang mengamati diri kita yang ketiga sedang dikritik. Bisa juga diri kita di sana melayang ke atas mengamati diri kita yg ketiga sedang di bawahnya, dan kita di sini mengamati semua peristiwa tsb aebagai observer.

3. Make a dissociated representation of the content of the criticism
Sekarang, muailah orang tsb mulai mengkritik diri kita yg ketiga. Selagi kritik berlangsung, tampilkan film di atas diri kita di sana tentang kejadian yang dikritik tsb.

4. Evaluate the criticism, gathering information when necessary
Lalu, munculkan juga film kedua di atas diri kita di sana mengenai apa yang diri kita ingat tentang kejadian yang sedang dikritik tsb. Bandingkan dengan film pertama versi si pengkritik tadi. Apakah ada yang sama? Apakah ada yang beda? Atau ada yang tidak jelas? Bila perlu tanyakan pada si pengkritik. Misal, "apa spesifiknya yang saya telah lakukan yang membuatmu sakit hati?", dst. Kumpulkan informasi selengkap mungkin.

5. Decide on a response
Setelah tahap 4 dilakukan maka akan muncul beberapa kesimpulan, apakah film pertama sesuai sengan film kedua, atau ada yang tidak sesuai, atau bahkan sama sekali berbeda.

Amati diri kita di sana akan memberikan response seperti apa. Mulailah dengan mengucapkan terima kasih karena dia telah memberikan kritik ke kita, lalu tentukanlah response yang menurut kita paling tepat dan ekologis terhadap tiap kesimpulan itu.

a. Bila sesuai, mungkin kita yang di sana akan merenspose dengan meminta maaf kepada si pengkritik dan berjanji untuk memperbaiki kesalahan/perilaku kita.

b. Bila sama sekali berbeda, mungkin kita yang di sana akan menjelaskan yang terjadi sebenarnya dengan cara yang elegan dan ekologis.

c. Bila ada yang sesuai dan ada yang tidak, kita yang di sana bisa meresponse dengan cara gabungan a dan b di atas.

d. Terkadang kritik tsb memang ngaco atau sangat konyol. Maka kita yang di sana bisa meresponse-nya dengan hanya mengucapkan terima kasih, diam saja, atau dengan cara lain yang menurut kita lebih efektif.

6. Repetition
Silahkan ulangi tahap 1 sd 5 di atas hingga minimal 3 kali. Pada tiap pengulangan, gunakan jenis kritik yang berbeda dari yang sebelumnya, sehingga akan muncul response yang berbeda-beda juga.

7. Re-associate with the part of you that learned this strategy
Ucapkan terima kasih pda diri kita yang di sana karena telah menjadi sumber daya kita dalam memperbaiki diri saat menerima kritik.

Lalu, ulurkan tangan kita dari sini menggapai diri kita yang di sana, tarik dan bawa masuk dia ke tubuh kita di sini. Ambil waktu sebanyak yang kita butuhkan sehingga semua pembelajaran dan srategi baru ini menyatu dengan diri kita, dan sistem syaraf di seluruh tubuh kita pun menyesuaikan diri untuk menerima seluruh pembelajaran dan strategi ini, sehingga kita bisa memanggil dan mennggunakannya kapan pun kita membutuhkannya di masa depan dengan mudah, cepat, dan nyaman.

Cek ke diri kita apakah ada penolakan? Bila ada cari tahu apa yang ditolak dan silahkan kita lakukan penyesuaian dengan mengulangi lagi tahap-tahap di atas.

Bisnis Barokah

07.04 0 Comments A+ a-




Manager Inggris Takjub dengan KEAJAIBAN CARA BISNIS di Negeri Raja Salman

Cukup menarik artikel yang diposting di laman FB Life in Saudi Arabia, Kamis kemarin (16/03/2017) yang berjudul "This is how Business competitors are seen in Saudi Arabia".

Artikel itu menceritakan bagaimana gambaran persaingan bisnis di Saudi Arabia, negeri yang belakangan ini jadi perhatian kita sejak kunjungan Raja Salman.

Dikisahkan bahwa ada seorang manager berkebangsaan Inggris dikontrak oleh Bin Dawood (salah satu departemen store terkemuka di Saudi Arabia) sebagai regional manager untuk cabang mereka di Makkah. Manager ini sudah memiliki jam terbang yang cukup tinggi. Berpengalaman sebagai manager pusat perbelanjaan di U.K, Malaysia dan China.

Setelah tinggal dan bekerja beberapa lama di Saudi, dia kemudian menceritakan betapa aneh, unik dan inspiratif sekali bagaimana orang menjalankan bisnis di Saudi. Ini beberapa contoh yang dia berikan:

(1) Kisah pertama…

Di Makkah, di seberang Bin Dawood Superstore ada perusahaan yang juga membangun sebuah megastore. Hanya beberapa meter saja jaraknya dari Bin Dawood. Manajer baru ini merasa gelisah, “Kenapa sih mereka tidak buka di tempat yang lain?”

Pemilik Bin Dawood mengerutkan wajahnya, tanda dia tidak suka dengan perkataan tersebut.

Apa yang kemudian dia lakukan?

Pemilik Bin Dawood lantas mengirimkan sebagian karyawan Bin Dawood ke pusat perbelanjaan yang baru berbenah tadi, mengirimkan makanan dan teh serta menawarkan bantuan apa yang mereka butuhkan!

Manajer dari Inggris tadi terheran-heran melihat reaksi dari pemilik Bin Dawood.

Owner Bin Dawood tadi kemudian mengatakan, "Our rizq is fixed, they cannot take even a single riyal from what has been decreed upon us. So why not gain ajr and help them." (“Rezeki kita itu sudah ditentukan. Mereka tidak akan bisa mengambilnya walaupun hanya satu riyal kalau memang sudah ditaqdirkan itu milik kita. Jadi mengapa kita tidak coba cari pahala dan membantu mereka?”)

Banyak orang yang tidak memahami konsep sederhana ini, bahwa rezeki kita itu sudah fix, sudah ditetapkan. Tak perlulah merasa gelisah dengan adanya persaingan dalam bisnis.

(2) Kisah kedua berkenaan dengan owner dari peternakan ayam Fakieh. Fakieh Poultry Farms adalah peternakan ayam terbesar kedua di Saudi Arabia setelah Al Watania sebagai peternakan terbesar pertama.

Di tahun 2014 Fakieh Poultry memproduksi 500.000 ayam broiler setiap harinya. Perusahaan ini telah mengoperasikan lebih dari 200 peternakan ayam yang tersebar di seluruh wilayah Saudi Arabia.

Suatu saat, saingan terbesar Fakieh Poultry yaitu Al Watania terlilit hutang sebesar lebih dari satu juta riyal. Kalau tidak dibayarkan mungkin bisa beresiko bagi bisnis mereka. Aset bisa disita.

Apa yang dilakukan oleh pemillik Fakieh Poultry?

Dia mengirim cek sebagai bantuan bagi perusahan Al Watania untuk membayar hutangnya sambil berpesan,

“Bayar hutang-hutangmu sekarang, dan kembalikan kepadaku kapan saja kalau kamu sudah bisa mengembalikannya.”

Fakieh Poultry punya peluang untuk menyingkirkan saingannya dan menjadi yang nomor satu. Tapi sebaliknya, dia malah menolong saingan bisnisnya yang sedang kesulitan.

ماشاء الله تبارك الله

Ini adalah gambaran bisnis di Saudi Arabia.

"I personally feel we have been affected growing up in the west with the capitalistic and consumer mindset that is in every part of our lives. It removes Tawakkul and the muhabbah of brotherhood from our hearts. Just some advice. Don't worry about others, if you do your work with Ihsan and Allah gives you tawfeeq then you will never have your success limited by others.
Become a well wisher."

("Saya pribadi merasa kita telah tumbuh di barat dipengaruhi dengan pola pikir kapitalistik dan konsumer mindset yang ada di setiap bagian dari kehidupan kita. Ini akan menghapus Tawakkal dan saling mencintai persaudaraan dari hati kita. Hanya beberapa saran: Jangan khawatir dengan orang lain, jika Anda melakukan pekerjaan Anda dengan Ihsan dan Allah memberikan tawfeeq maka Anda tidak akan pernah memiliki keberhasilan yang dibatasi oleh orang lain.")

Semoga yang sedikit ini bisa menginspirasi para pelaku bisnis di negeri kita.


Visi Misi Strategi dan Values

01.40 0 Comments A+ a-



Pada training Management Strategic di IHRI tahun 2016, saya sempat sharing tentang visi, misi, strategi dan values serta tentang KPI (turunan dari strategi inisiatif) yang memang wajib diketahui oleh seorang Human Resources ataupun praktisi lainnya.

Hal ini menjadi penting karena yang memberikan sosialisasi, training tentang visi misi perusahaan adalah tim Human Resources dan Training Department.

Seperti kita ketahui bahwa *Visi* adalah vision atau penglihatan. Visi juga bisa disebut visibility yaitu kemampuan jarak pandang. Sebagai analogi adalah seorang pilot yang memiliki visibility atau jarak pandang sejauh 200 meter, yang berarti bahwa pilot memiliki kemampuan melihat dengan jarak tertentu yang bisa diukur sesuai penglihatannya.

Maka visi berarti adalah sesuatu yang harus mampu diukur dan diraih sesuai kemampuan. Jadi bila ada sebuah perusahaan yang baru saja dibangun memiliki visi menjadi yang terhebat di dunia sedangkan ia masih baru saja dibangun di sebuah kota sebut saja Malang, maka perusahaan ini bukan memiliki visi tetapi mimpi. Ia bermimpi untuk menjadi terhebat di dunia padahal di Malang saja ia masih yang urutan terakhir.

Visi berbeda dengan mimpi, karena visi akan diturunkan sampai ke level paling bawah yaitu level associate, dimana mereka juga harus paham dan memiliki pemikiran bahwa visi perusahaannya memang achievable (sangat mungkin dicapai) dan bukan sebuah mimpi yang tidak mungkin dicapai apalagi dalam waktu dekat.

Seharusnya visi perusahaan tersebut bisa saja menjadi terbaik di kota Malang pada tahun 2020. Waktu empat atau lima tahun adalah waktu ideal untuk sebuah visi, karena  masih sangat mungkin diraih. Contoh sebuah visi, *"Menjadi perusahaan busana muslimah terbaik di kota Malang pada tahun 2020"*, inilah visi, jelas dan terukur. Jelas karena yang dijual busana muslimah dan terukur menurut waktunya. Coba bayangkan bila visinya, *"Menjadi perusahaan busana muslimah terbaik di DUNIA pada tahun 2020."* Bagaimana menurut Anda dengan visi ini, apakah ini sebuah visi ataukah mimpi ?

Visi hanya ada satu, dan tidak bisa lebih dari satu. Sebagai contoh, seorang kapten memanggil tiga orang sersan untuk melakukan serangan yang sudah terdeteksi, yaitu "Serangan terhadap sebuah tank yang akan melintas pada esok hari jam 6 pagi di koordinat lintang utara bujur selatan." Inilah visi, hanya boleh satu. Bila lebih dari satu maka bisa dibayangkan tidak akan ada kejelasan mau kemana arah serangan dituju. Masing-masing menentukan visi dan arah sendiri-sendiri.

Ketika visi sudah jelas, maka Kapten menentukan misi utama pada masing-masing sersan. Ada yang mendapat misi serangan dari arah selatan, utara dan timur. Kemudian masing-masing sersan menyiapkan langkah-langkah secara mendetail untuk mendukung visi sang kapten sesuai dengan bagian dan kompetensi yang dimiliki mereka masing-masing.

Demikianlah contoh visi, maka visi yang efektif antara lain harus memiliki karakteristik seperti :
1. Imagible (dapat di bayangkan).
2. Desirable (menarik).
3. Feasible (realities dan dapat dicapai).
4. Focused (jelas).
5. Flexible (aspiratif dan responsif terhadap perubahan lingkungan).
6. Communicable (mudah dipahami).

Sedangkan Misi berarti tugas-tugas yang menggambarkan identitas tentang *"siapa"*, *"apa"*, dan *"bagaimana"*.

Analogi sebuah misi sebagai contoh adalah ketika seorang karyawan ditugaskan untuk menghadiri sebuah undangan di Kementrian Tenaga Kerja maka itulah yang disebut misi, yaitu menyatakan identitas diri atau perusahaan.

Pada saat datang di Kementrian maka yang ditanya pertama kali adalah *"siapa Anda"*, maka itulah pentingnya ID Card karyawan. Kemudian *"Apa yang Anda lakukan?"*, maka itulah pentingnya surat tugas dari perusahaan, dan terakhir yang terpenting adalah *"bagaimana perilaku Anda disana"*, inilah yang terkait erat dengan values atau nilai-nilai brand image perusahaan.

Perilaku masing-masing karyawan perusahaan akan berbeda-beda, ada yang tidur, ada yang datang telat dan pulang cepat, ada yang memakai baju bebas, ada yang tidak punya ID Card, ada yang sebentar-sebentar merokok keluar ruangan dan perilaku lain-lain yang mana semua itu akan menggambarkan values dan nilai-nilai dari perusahaan Anda.

Maka dimanakah letak strategi, dimanakah hubungan antara perumusan Visi dan Strategi perusahaan..?

Strategi sangat penting untuk mendukung visi misi yang biasanya ditentukan langsung oleh Top Management. Strategi akan jalan bila saja values menjadi perilaku pada setiap individu-individu karyawan dalam implementasinya.

Setelah visi dirumuskan maka seluruh strategi perusahaan harus mengacu pada visi tersebut dan tidak boleh dibalik, strategi dulu yang disusun duluan baru visi belakangan. Sebab hal ini di khawatirkan strategi tidak akan efektif karena komitmen dan arah tujuan seluruh orang dalam perusahaan berbeda dan terkotak-kotak dalam functional structure. Dalam mengkomunikasikan visi misi peran leadership sangat menentukan dalam mengkomunikasikan visi, yaitu melalui :
1. Education (menumbuhkan pemahaman terhadap visi misi).
2. Authentication (menumbuhkan keyakinan kepada semua pihak bahwa “kata-kata harus sesuai dengan perbuatan”).
3. Motivation (menumbuhkan kemauan dari dalam diri karyawan untuk berperilaku sesuai dengan values perusahaan).

Demikian sekilas tentang Visi, misi, strategi dan values. Semoga bermanfaat.

Derli Fahlevi

Awesome Leader

01.33 0 Comments A+ a-



Kejadian ini terjadi di Amerika kurang lebih 200 tahun yang lalu, pada waktu itu sedang terjadi perang.
Seorang berpakaian sipil dengan berkuda melintas di sebuah kelompok kecil tentara yang tampak Lelah dan kotor akibat pertempuran. Mereka sedang sibuk menggali sebuah parit untuk posisi defensif yang cukup penting.

Pemimpin dari kelompok itu tampak gagah dengan baju perlente dan sedang santai merokok, Ia berteriak memberi perintah dan mengancam akan menghukum kelompok tersebut jika pekerjaan menggali parit tersebut tidak selesai dalam waktu sejam.

“Mengapa kamu tidak membantu?” Kata orang asing tersebut diatas kudanya.

“Saya komandan disini! Mereka (sambil menunjuk para tentara tersebut) harus mematuhi perintah saya!” Kata komandan tersebut dengan tegas dan garang. “Bantulah mereka jika kamu merasa mereka perlu dibantu.”

Pemimpin tersebut terkejut tatkala ia melihat orang asing tersebut langsung lompat dari kudanya dan membantu para tentara yang keletihan tersebut hingga penggalian parit itu selesai.

Sebelum ia meninggalkan tempat itu, orang asing itu menyalami serta menyelamati para tentara tersebut karena sudah menyelesaikan pekerjaan yang berat tersebut dengan luar biasa. Sang komandan pun bingung tatkala para bawahannya dengan sikap sempurna memberi hormat pada orang asing tersebut.

Ketika sang komandan mendekati orang asing tersebut. Orang asing itu berkata demikian:Lain kali, kamu harus mengenali pimpinan tertinggi Tentara di negeri ini. Dan kamu harus ingat hal ini, jika pangkat kamu membuat kamu tidak dapat membantu orang-orang yang kamu pimpin, maka saya akan menyediakan *“solusi permanen”* untuk diri mu!

Setelah sang komandan memperhatikan dengan seksama, tiba-tiba mukanya menjadi pucat pasi begitu ia mulai mengenali bahwa di depannya adalah pimpinan tertingginya yang rendah hati, Jenderal George Washington. Hari itu ia mendapat pelajaran yang tidak akan pernah dilupakannya seumur hidupnya.

Pangkat, predikat, posisi, hendaknya tidak menjadikan seorang pemimpin menjadi sombong.
Pemimpin bisa mencapai tingkatan yang disebut “AWESOME LEADER” hanya jika ia memiliki pengaruh yang kuat pada anak buahnya. Hal itu bisa terwujud hanya jika ia rendah hati mau mengerti anak buahnya dan bekerja bersama dgn mereka.

"You are awesome and be the Awesome Leader"

"If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader."
(John Quincy Adams)

#bss

Ukuran Sukses

18.03 0 Comments A+ a-

- SUKSES -

Hasil penelitian dari : Thomas J. Stanley, Ph.D dalam buku "The Millionaire Mind" mungkin akan mengubah apa yang anda percayai.

Penelitian beliau menunjukkan bahwa dari _100 faktor yang berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang, ternyata
IQ hanya diurutan ke-21, bersekolah di sekolah favourite diurutan ke-23, dan lulus dengan nilai terbaik/hampir terbaik cuma  diurutan ke-30.

Kaget ??

Ingin tahu 12 faktor pertama yang berpengaruh terhadap kesuksesan anda dan anak anda kelak?

1. Jujur
2. Disiplin
3. Pandai bergaul
4. Dukungan dr pasangan hidup
5. Bekerja lebih keras dr yg lain
6. Mencintai apa yg dikerjakan
7. Kepemimpinan Yang Baik dan Kuat
8. Semangat & berkepribadian kompetitif
9. Pengelolaan Kehidupan yang baik
10. Kemampuan menjual gagasan ide dan produk
11. Berinvestasi dg bijak
12. Pandai melihat peluang

Silahkan anda renungkan dan susun kembali rencana hidup kita.

Semoga bermanfaat  buat kita semua. #bss