Work in Silence or Promote YourSelf?

18.25 0 Comments A+ a-

WORK IN SILENCE OR PROMOTE YOURSELF?

Pagi itu seorang teman mengajak saya ke sarapan di Oakwood di Mega Kuningan.
Sambil makan kami pun bercerita tentang apa yang kami lakukan selama beberapa tahun terakhir.
Kemudian dia  menceritakan masalah yang dia hadapi.
Dia mempunyai anak buah yang bernama Arya.
Arya adalah seorang manager dengan performance yang sangat bagus.
Dan idealnya di perusahaan tersebut Arya sudah dipromosi setelah 3 tahun di jabatan itu menjadi seorang Senior Manager.
Nah masalahnya Arya dinilai oleh para leader di business dan HR bahwa Arya tidak mampu menduduki jabatan Senior Manager.
Management tidak melihat bahwa dia mempunyai apa yang dibutuhkan pada level senior manager.
Management bahkan tidak melihat strategic result yang dia hasilkan.
Pada saat coaching discussion, Arya pun kecewa dan marah.
Arya menyampaikan kekesalannya pada manajemen.
Arya bilang,"Pak, prinsip hidup saya adalah, I work in silence and my success should do the rest"
Arya bilang dia tidak suka bilang ke orang lain apa yang dia kerjakan.
Dia tidak suka menyombongkan diri ataupun menjilat atasannya.
Dan itulah kenapa dia lebih suka bekerja keras dan berdiam diri.
Mestinya adalah tanggung jawab manajemen termasuk atasannya untuk mengetahui pekerjaannya dan hasilnya.
Teman saya bertanya apakah yang harus dilakukannya?
Apakah Arya benar bahwa he will work in silence and his success do the rest, ataukah seharusnya Arya lebih "menjual diri" kepada manajemen?

Interesting question.
Kita bahas yuk ....

Jadi pertama kita harus mengerti  bahwa untuk dipromosikan kita memerlukan 2 hal:
- performance kerja yang  bagus (pencapaian KPI nya)
- potential (ditunjukkan dengan leadership, strategic controbution and feedback/visibility to management)

Jadi performance saja tidak cukup.
Memangnya seorang pemain bola yang hebat  bisa menjadi pelatih sepak bola yang hebat? Enggak kan? Lihat, Maradonna itu dulu juara dunia sepakbola.
Tetapi waktu menjadi pelatih hasilnya hancur.
Kalau perlu untuk menjadi pelatih, malah lebih baik tidak pernah menjadi pemain hebat mampu melatih, seperti Jose Morinho.

Perusahaan itu biasanya mempunyai standard competency dan kualifikasi tertentu untuk menjadi seorang Senior Manager.
Anda harus punya leadership skills yang lebih tinggi, dan strategic contribution yang lebih bagus.
Jadi bukan berarti seorang Manager yang performance bagus pasti akan menjadi Senior Manager setelah 3 tahun. Mereka harus mempunyai high potential.

Factor yang juga penting adalah apakah anda juga "kelihatan".
Kalau memang yang anda lakukan membawa business impact yang bagus, mestinya kan banyak orang yang tahu.
Ternyata performance Arya tidak kelihatan, berarti hasil yang dihasilkan masih kurang dan juga berarti dia tidak men-share apa yang dilakukannya dan dihasilkannya kepada yang lain.

Yang menentukan promosi anda bukan hanya atasan anda.
Sering kali harus ada opini tambahan dan approval dari HR, atasannya atasan anda bahkan kadang kadang direksi yang lain sampai ke CEO.
Jadi kemungkinan anda dipromosi akan kecil kalau satu satunya orang yang tahu hasil kerja anda adalah atasan anda.
Jadi "I work in silence and let my success do the rest" is like the dumbest sentence I ever heard ....
You have to work hard and share your work (and its result) so they know how great is your work (and your result) so they will appreciate you (and eventually promote you).
Sangat tidak fair untuk mengharapkan boss anda sendirian "menjual" anda .
Anda harus membantunya dengan menjual anda sendiri.

Ok, jangan salah mengerti. Saya tidak  bilang bahwa anda tidak usah  bekerja keras. Saya tidak bilang bahwa satu satunya yang harus anda lakukan adalah menjual diri anda, menyombongkan diri atau bahkan menjilat atasan anda.
Anda harus bekerja keras dan menjual diri anda.
You have to do both!

What does it means?
Promoting yourself is doing these activities :

- Work hard
Anda harus bekerja keras dan memberikan full commitment and dedication ke perusahaan anda.

- Bring maximum impact
Kerja keras itu bagus, tetapi you have to make sure that your result bring strong business impact to your company.
Think from that perspective. It is  not about you tick the  box and complete your activity.
It is about apa yang benar  benar didapatkan perusahaan anda dari hasil kerja anda?

- Share your result and experience with others
Setelah anda mengerjakan dengan baik, dan hasilnya pun membawa strong business impact, sebaiknya anda juga men-share ...
- what you did
- how you did it
- what are the impacts
- why it was successfull?
- what was the mistake and how to avoid in the future

Sharing itu akan sangat bermanfaat dan menjadi learning  bagi semua orang di perusahaan anda

- Develop your team members to build your leadership capability
Last but not least, sebagai seorang leader anda dites bukan hanya dari kemampuan anda untuk perform bagi anda sendiri, tetapi juga kemampuan anda mendevelop orang lain.
So focus on both sides
- performing your business
- developing your team members

It has to be all of the above, you cannot only work hard and keep silence, the world will not notice you ....



Pambudi S

5 Tips to motivate

13.09 0 Comments A+ a-

*5 Tips For Motivating Your Team*

Here are five things we do here at Work It Daily to motivate our team:

*1. Be Supportive*

I think it’s very important to have a supportive team. Our team is very open and supportive of each other. This attitude encourages our employees to go to each other when they are stuck in a project or need some extra input.

I know from personal experience that having that support system is a great motivator because it allows you to ditch your doubts.


*2. Allow Everyone To Share Their Ideas*

We have regular brainstorming sessions with the team, which means everyone has a chance to be creative and get involved in big projects.

This is a great way to get a team excited about our company projects and goals. Having a regular time and place to contribute your ideas really encourages the team to aim higher, think creatively, and work more efficiently.


*3. Encourage Ownership*

We also make sure everyone “owns” a project – each individual has the responsibility for one major project in the company.

Every person must create, manage, and track the results of a project. Having that extra responsibly motivates each individual to do their absolute best.


*4. Let Them Know You Appreciate Them*

Another great way to motivate employees is to let them know you appreciate their work – both publicly and privately.

Whether it’s a private email commending someone on a job well-done, or a public announcement with a monthly award/certificate, appreciating your employees and their work is always a fantastic motivator.


*5. Have A Little Fun*

We also make time for fun at the office. We have team lunches and games, and even an ongoing office prank – all of these activities help the team bond and build stronger relationships with each other.

To me, this is a huge to-do because, if you don’t make an effort to get to know the people you work with each day, you’re not going to be very motivated to go to work, are you?

You spend more time with these people than your own family – you should have the opportunity to get to know them on a different level.


Semoga bermanfaat


*"When people talk, listen completely."* -- Ernest Hemingway


Resource: https://www.workitdaily.com/motivating-your-team-tips/

Stay Survive for the Future

17.01 0 Comments A+ a-

Selamat pagii semuanya....



ARE YOU READY FOR THE FUTURE ?

Ada sebuah perusahaan bernama _Garmin._ Mereka memproduksi _GPS navigation system_ yang banyak dipasang di mobil mobil.
Dan pada saat itu angka penjualan mereka naik pesat selama bertahun tahun.
Tetapi ternyata tidak lama kemudian, bencana itu datang ........
Dan ternyata dunia dibanjiri _smart phone._
Tiba tiba orang tidak membeli lagi Garmin GPS system buat mobil lagi.
Penjualan mereka pun turun drastis.
Bencana .......bencana ...... bencana .......?

Bencana yang sama pernah
dialami *Kodak* pada saat orang tidak mencetak photo lagi,
dialami *Nokia* pada saat orang tidak menggunakan telphon untuk komunikasi dengan voice (suara) lagi,
dialami *Blackberry* pada saat orang tidak messaging menggunakan BBM lagi,
dialami *perusahaan-perusahaan minyak* pada saat kita menginginkan alat transportasi yang ramah lingkungan,
dialami *kantor kantor cabang bank* pada saat pelanggan tidak mau lagi ke cabang (dan lebih suka menggunakan ATM dan mobile banking),
dialami *bus-bus malam* pada saat pelanggan lebih suka naik pesawat dengan selisih harga yang sedikit .........
Contohnya sudah cukup banyak?

Karena memang *_perubahan itu sedang terjadi_ di mana mana, di semua bidang, di semua industri, di semua negara.*
_The world has changed. The world is changing. And the world will continue to change ...._

Charles Darwin ...... dalam penelitian di pulau Galapagos menemukan sesuatu yang menarik. Kesimpulan Darwin yang ini *"Bahwa makhluk yang paling sukses bukannya yang paling kuat, tetapi yang mampu bertahan dengan perubahan"*

Kalau kita sesuaikan dengan context jaman sekarang ternyata bukan manusia yang paling kuat yang paling sukses, bukan manusia yang paling cakep yang paling sukses, dan bahkan bukan yang paling pintar yang sukses (makanya juara juara 1 di sekolah kita dulu sering kali bukan menjadi yang paling sukses dalam kehidupan).

Ternyata _yang paling sukses adalah yang paling mampu bertahan menyesuaikan diri dengan perubahan._

Nah pada saat Kodak dan Nokia mobile phone tidak mampu bertahan, ternyata ceritanya *Garmin* lain banget.
Ternyata meskipun waktu itu mereka jaya dengan product product GPS, Garmin _sudah menyiapkan product-product dan inovasi di bidang lain_....... yaitu _gadget-gadget untuk alat kesehatan dan fitness._
Jadi ternyata pada saat angka penjualan GPS system turun, mereka langsung _ganti focus_ dan mengencangkan penjualan gadget untuk fitness and health.
Tidak lama kemudian angka penjualan pun meroket lagi. Wow!

Why?
_Because they are ready for the future!_
Karena mereka siap menghadapi masa depan.

Apakah Nokia mobile phone ready? No, they are not.
Apakah Blackberry ready? No.
Apakah bus bus malam ready? No.
Apakah perusahaan perusahaan minyak ready? No.
Padahal perusahaan perusahaan itu mungkin dulu lebih jaya dan lebih kaya daripada Garmin.
Tetapi *mereka _tidak ready._ Dan mereka _tidak mampu beradaptasi dengan perubahan!_*

By the way, ini bukan hanya berlaku pada perusahaan, ternyata ini juga _berlaku pada diri kita dan karier kita._
Dan juga untuk _karier anak anak kita kelak_ nanti.

Sebaik apapun profesi yang kita tekuni, bidang yang kita jalani, dan industri di mana kita bekerja tetap saja ada resiko yang mengancam karier kita.
_Tidak ada yang pasti dalam karier kita._

So please,  jangan pernah complaint kepada perusahaan atau kepada atasan kita dengan mengatakan _"Saya merasa tidak ada kepastian dengan karier saya di perusahaan ini"._

Kehidupan kita ini tidak akan pernah ada kepastian! Kalau anda bagus anda akan maju, kalau tidak ya anda tidak akan pernah dipromosi. It is easy as that. Jangan mengharapkan kepastian.

Belasan tahun lalu banyak teman  mendaftar ke Teknik Sipil dan berharap bahwa mereka akan menjadi Insinyur Pembangunan, pada saat lulus ternyata ada krisis moneter dan pembangunannya di rem.
Kebingungan mereka.
Beberapa tahun lalu anak anaknya teman teman  pada mendaftar jurusan perminyakan, karena bapaknya pada kaya kerja di perusahaan minyak. Sekarang mereka lulus, dan ternyata tidak ada perusahaan minyak yang merekrut. Boro-boro merekrut, karyawan yang ada saja di PHK.

Sekarang lulusan perminyakan banyak yang mendaftar jadi agen penjualan asuransi _(which is great, berarti mereka punya plan B)._

Yang sekarang jadi teller, harus siap siap bahwa jumlah teller yang dibutuhkan akan turun (karena  banyak yang lebih suka ke ATM atau via Mobile Banking).

Yang saat ini sedang kuliah kedokteran siap siaplah bahwa mungkin pendapatan dokter di masa depan akan tidak sebanyak masa lalu.

Always always ....... _siap-siap dan pelajari trend dan bersiap untuk masa depan dengan mempelajari hal baru dan menambah differentiator anda_.

Jadi apa dong yang kita bisa lakukan untuk mempersiapkan masa depan kita ?
_What can we do to prepare for the future ...._

*1. CONTINUE TO PERFORM AT WHAT WE  DO*
_Tetap fokus pada apa yang anda lakukan and always perform and contribute at the maximum level._

*2. READ, WATCH, OBSERVE, LEARN*
_Selalu mengamati apa yang terjadi di dunia luar sana. Lihat TV, dengerin Radio, browse Internet, baca buku, koran dan majalah._

*3. UNDERSTAND THE CHANGE THAT IS HAPPENING*
_Perhatikan pattern perubahan yang sedang terjadi._
Apa yang sedang berubah pada...
- pola pikir manusia
- perilaku konsumen
- bisnis
- regulasi
- politik
- trend demographic
- trend urbanisasi
- trend digital

*4. LEARN SOMETHING NEW, INCREASE OUR DIFFERENTIATORS*
Kita sudah punya beberapa differentiator yang mengantarkan  ke karier kita sekarang._
_Pelajari competency baru, skills baru, dapatkan knowledge baru, sertifikasi profesi yang baru, pelajari bahasa asing lain._ Semuanya akan menambah differentiator kita untuk menambah kesiapan  di masa depan.

*5. BE HUMBLE, KEEP AN OPEN MIND AND ALWAYS WANT TO LEARN*
Terakhir .. kita harus mengerti ... we don't know what we don't know.
_Lets be humble and open mind._

Mari kita belajar, dari siapa saja...
- dari boss kita
- dari customer kita
- dari peer kita
- dari supplier kita
- dari anak buah kita
- dari pegawai yang baru join di perusahaan kita.
Kadang-kadang anak baru yang masih muda ternyata membawa perspektif baru dan membuat *kita belajar dari sudut yang lain.*
_*Let's be humble and keep an open mind...*

TETAP SEMANGAT ....TOP PERFORMER NO LIMIT...

What if I'm not ambitious?

16.51 0 Comments A+ a-

WHAT IF I AM NOT AMBITIOUS?

BAGAIMANA SEANDAINYA SAYA TIDAK PUNYA AMBISI?

Senin pagi itu saya mendarat di Shanghai jam 7 pagi. Dan kebetulan saya bertemu dengan seseorang yang juga dalam perjalanan menuju hotel yang sama.
Sebut saja namanya Hari.
Hari adalah Regional Manager sebuah perusahaan di Jawa Tengah dan memimpin sebuah tim dengan 300 anak buah.
Ternyata beberapa kali Hari membaca tulisan saya di Fabebook (what a coincidence!).

Taxi kami meluncur di Shanghai. Dan tiba tiba dia bertanya,
"Pak Pam, saya beberapa kali membaca artikel Pak Pam. Dan memang isinya bagus tentang bagaimana kita harus mengembangkan karier kita.
Tetapi bagaimana dengan saya Pak?
Saya sudah sangat bahagia di posisi saya ini (Saya di posisi ini sudah 8 tahun)..Saya sangat loyal kepada perusahaan saya..Saya gak mau pindah. Gak mau dipromosi..Saya betah di Jawa Tengah. Keluarga saya betah di sini. Kalau harus promosi keluarga saya harus pindah ke Jakarta. Dan keluarga saya gak akan mau.
Jadi saya ingin terus terusan di posisi ini.
Apakah ada yang salah dengan ini Pak?"

Dia berhenti sejenak, dan membuka botol air mineral kemudian meminumnya.

Kemudian saya menjawab,"Yes. Ada yang salah...."

Hari seperti terkejut dan tidak  berharap saya akan menjawab secara direct seperti itu.

Dan saya pun meneruskan,"
Pertama Pak Hari, Anda bilang anda sudah 8 tahun di posisi ini. Dan ingin  bertahan lebih lama lagi.
Kasihan amat anak anak buah anda. Mereka sudah delapan tahun menunggu promosinya. Dan tidak ada satupun yang dipromosi. Dan sekarang anda bilang anda mau stay lebih lama lagi?
Berarti anak buah anda gak ada yang bagus dong?
Mana ada talent yang  bagus yang mau nunggu 12 tahun untuk dapat promosi?
Atau anda mau bilang dari 10 anak anda semuanya tidak berambisi? Maaf. Ini susah dipercaya.
Jadi dengan anda tidak mau dipromosi, mungkin anda nyaman, mungkin anda betah.
Tetapi anak buah anda gerah.
Kasihan amat mereka.... Jenjang karier mereka di block hanya gara gara bossnya betah di Jawa Tengah."

Hari mengangguk angguk sambil berfikir.

Saya meneruskan,"
Kedua... mungkin anda loyal kepada perusahaan anda. Tapi seberapa hebat perusahaan anda, bisa saja suatu saat perusahaan anda bangkrut, tutup atau dijual. Terus bagaimana dong? Kalau anda tidak bersiap siap?
Kalau satu satunya yang anda mampu adalah kemampuan mengerjakan satu hal dengan proses di perusahaan itu saja?
Akan susah banget kan cari kerja.
Seolah olah nafkah keluarga adalah mobil tanpa ban cadangan?
Anda harus mulai explore untuk promosi, atau pindah ke departemen lain di perusahaan yang sama (dengan level yang sama)"

Di sini Hari mulai merenung.

Di sinilah bahayanya zona  nyaman. Pada saat anda berada di comfort zone, anda harus segera memikirkan untuk segera pergi ke discomfort zone (learning zone).
Kalau tidak, semakin nyaman anda, anda tidak akan menyadari bahwa tiba tiba anda akan masuk ke panic zone dan kemudian disaster zone.
And you would be in big trouble.
Sometimes only paranoid will survive.
Unfortunately it is often the case.

Dan lihat bahwa comfort zone anda bisa membahayakan anda sendiri, tim anda bahkan perusahaan anda.

Jadi ...rencanakanlah, bikinlah plannya agar anda bisa mulai mengimplementasikan transisi itu.

1. DEFINE YOUR CAREER GOAL
Mulai pikirkan apakah the next job (role) yang anda inginkan. Bisa saja promosi (levelnya naik), atau lateral move (levelnya sama, tapi di function yang berbeda).

2. IDENTIFY THE COMPETENCE GAPS THAT YOU HAVE (AGAINST YOUR NEXT ROLE), DEVELOP YOURSELF

Ukurlah kemampuan anda, ukurlah skills dan competence anda.
Dan identify gaps anda untuk mengisi posisi berikutnya.
Develop yourself. Develop your competences so you can develop your career.

3. IDENTIFY YOUR POTENTIAL SUCCESSORS

Di antara anak buah anda, pilih 1-2 orang dengan performance dan potential yang bagus untuk menggantikan anda.
Jangan pernah menjanjikan. Tapi diskusikan bahwa anda berkomitmen untuk mengembangkan mereka. Dan nantinya itu semua adalah keputusan boss anda untuk menentukan siapa yang akan dipromosikan.
Anda memberikan komitmen untuk mengembangkan mereka.
Mereka harus berkomitmen untuk mengembangkan diri mereka sendiri.

4. DEVELOP YOUR SUCCESSORS, DEVELOP THEM TO BE READY TO REPLACE YOU

Ingat tugas anda membantu. But they have to be the pilot of their own career development.
Help them as much as you can.
Help them to attend the necessary trainings for them.
Help them to find coach/mentors.
Help them to build and expand their network.

5. BE TRANSPARENT, DISCUSS ABOUT THIS WITH YOUR SUPERVISOR AND HR

Share your career aspirations and also your plan to develop your successors.
Ask them to be the "third eye" to monitor when the time is ready and when there are other opportunities available.

Jadi ingat ya, sebelum anda memasuki comfort zone dalam career anda, mulailah menyiapkan succession plan anda dengan mendevelop successors anda dan mendevelop anda sendiri.

Selamat mencoba!



Pambudi S

sometimes , life's sucks

08.14 0 Comments A+ a-

*Some times, life sucks!*





Terdengar kasar ya kalimat itu. Tetapi kalau boleh berekspresi secara bebas, tidak berlebihan juga kan bilang begitu. Namanya juga 'some times', kan tidak berarti selamanya.

Ada kalanya segala sesuatunya nyebelin banget. Tapi mungkin memang begitulah hidup yang penuh warna itu. Ketika kita sedang sakit, misalnya. Kita merasakan nikmatnya sehat. Jika sehat terus, bagaimana kita sadar jika sehat itu berharga?

Ketika sedang bokek, kita merasakan nikmatnya memiliki uang. Waktu banyak uang terus, tercecer 10 atau 20 ribu dianggap cingcai kan. Kecil sih, tapi sering; sehingga nilainya besar juga. Disaat kantong sedang kering,  5 ribu perak aja rasanya berharga banget. Koin recehan pun dikumpulin.

Ketika diperlakukan tidak adil oleh orang lain, kita sadar bahwa orang; layak mendapat perlakuan yang baik. Padahal, waktu semua orang baik pada kita; mungkin kita suka semena-mena pada mereka. Karena kita, tidak merasakan bagaimana sakitnya diperlakukan buruk.

Saat berbuat baik pun, mungkin dicurigai jelek. Sudah jujur pun bisa dituduh bertingkah dibelakang. Begitu merasakan kecewanya dituduh yang nggak-nggak, kita jadi tahu bahwa menuduh orang lain tanpa dasar itu sungguh bukan perilaku yang pantas.

Ketika dikhianati oleh orang yang kita cintai, pasti sakit dihati. Tapi, kita jadi sadar kalau berkhianat itu bukan tindakan terpuji. Atau, minimal kita jadi tahu bahwa orang itu; mungkin bukan orang yang tepat untuk kita cintai.

Well... Life sucks, some time. But in many other times; life is great. Coz life offers plenty choices. Masih banyak kok kesempatan lainnya untuk menikmati hidup. Jika tidak sekarang, mungkin nanti. Jika tidak disini, mungkin ditempat lain. Jika tidak bersama seseorang, mungkin dengan orang lainnya.

Yang jelas, indahnya hidup tidak diberikan oleh orang lain. Kitanya yang menentukan. Orang lain boleh berkata apa saja tentang kita. Atau berbuat apa saja pada kita. Selama kita jadi orang baik sih; tenang aja. Toh kita tidak seburuk yang mereka katakan. Dan kita, bisa berbuat hal yang lebih baik dari perlakuan buruk mereka.

Life. Sucks sometimes. But. Life is great in many other times. Especially when we believe that we have done good things in life.


Sources: #
DEKA

Profesi ter Keren

19.08 0 Comments A+ a-

Siapa yang tidak ingin menjadi Ibu seperti Septi Peni Wulandani?

Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih sangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kita search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia.

Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.

Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut.

Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran. Akhirnya beliau pun menikah.

Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja.

Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah……Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren? Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga.

Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitu pun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik, lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan?

Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?

Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget.

Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.

Ara, anak kedua. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.

Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Keren!! Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20. Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?” hehe.

Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:

1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan.

2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktik nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.

3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “Kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.

4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.

5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!

6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai.

7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.

8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara homeschooling di mana ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.

9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe… Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta

10. Punya kurikulum yang keren, di mana pondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.

11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya. Daaaan masih banyak lagi.

Hhhhmmm… Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa.

Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia: housewife.

So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please, housewife is the most presticious career for a woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi. Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.

Dari kisah di atas, saya juga menarik kesimpulan bahwa seminar kepemudaan tidak melulu bahas tentang organisasi, isu-isu negara, dan lain-lain yang biasa dibahas. Pemuda juga perlu belajar ilmu parenting untuk bekal dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Bukankah dari keluarga karakter anak itu terbentuk?


Creative Leaders

16.19 0 Comments A+ a-

What Creative Leaders Do?

(Apakah yang dilakukan leader-leader yang creative?)

Kadang-kadang saya sengaja mengundang beberapa anak muda (kurang dari 30 tahun) untuk berdiskusi dan makan malam dari mereka.
Kadang-kadang mereka ingin menanyakan sesuatu kepada saya, tetapi seringkali saya juga belajar banyak dari mereka.
Often, they have a lot of brilliant ideas we can learn from ...

Malam itu saya mengundang dua anak muda di Setia Budi One, yang kebetulan dekat dengan kantor saya.
Sebut saja namanya Adi dan Win, dua-duanya bekerja sebagai Marketing Manager (di perusahaan yang berbeda) ....

Sambil melahap soto betawi dan gado-gado kesukaan saya, mereka pun memulai pembicaraan.

"Pak Pam, kami sering bekerja dengan leader-leader di perusahaan kami. Ternyata ada dua macam leader pak.
Ada result based leaders. Mereka ini business performance nya bagus banget pak. Tapi orangnya boring  banget pak. Ngomongnya kerjaan melulu.
Pusing deh. Apa lagi kalau kerja dengan Gen Y seperti kami. Gak nyambung banget deh pak.
Kemudian ada golongan kedua. Business leader yang fun banget, enak diajak ngobrol, sangat perhatian kepada anak buahnya, bahkan suka nraktir.
Tapi business performance nya hancur. Jadi biasanya baru setahun lebih dikit juga sudah diganti.

Apakah harus begitu sih pak?
Apakah memang untuk menjadi great business leader itu memang orangnya harus boring?
Apakah untuk menjadi good people leader itu memang akan membuat susah perform?
Apakah ada leader  yang performance bisnisnya bagus dan juga perhatian sama anak buahnya?"

Anak anak muda itu menanyakan sesuatu yang sangat menarik.
Dan pertama kali mari kita jawab dulu... jawabannya... ADA!
Dan tentu saja da leader yang performance bisnis nya bagus dan mampu memotivasi serta men-develop team membernya.
I have met many of them.
And I am lucky to work for some of them.
I call them creative leaders.

The next question is what do they do differently?
Remember they are  not doing different things.
They still work hard to achieve their challenging objectives.
They still make sure they develop and  motivate people.
The just do (the same) things differently.

Let's see what they do .

1. They Change the language

Those creative leaders communicate differently.
Using different methods of communication (email, one to one, post it note, fun meeting, fun team activity, poster on the wall ...)
They also use different words , different sentences that make you want to listen to them.
They are fun to listen, they are clear and easy to understand, so the followers have no trouble to follow them.
They dont use complicated words to show off how smart they are, or to test the intellectual skills of their people.
Mereka hanya berbicara dan berkomunikasi dengan jujur dan tulus dari hati ke hati.

2. They Have a lot of ideas

Leader leader yang kreatif itu asyik banget... kita akan enjoy dan have fun kalo kerja sama mereka. Mereka ini punya banyak ide dan suka mencoba coba teknik baru untuk memecahkan masalah.
Idenya gak ada habis habisnya, aneh-aneh, seringkali ditertawakan orang pada awalnya, tetapi kemudian seringkali terasa benar pada akhirnya.

3. Surprise with the obvious

Banyak ide yang pada awalnya terasa obvious. dan kita gak memikirkan , tetapi mereka sempat sempatnya memikirkan idea itu , dan pada akhirnya terasa banget manfaatnya buat bisnis.
Why? Because they take time to think and look at different perspective before they start a task.

4. Fail fast, learn fast, Fix Fast

Since they like to try new things (and they encourage his team to do the same), mereka suka mencoba coba, kadang kadang berhasil, kadang kadang gagal.
Tetapi kalau mereka gagal, mereka akan belajar dari situ, memperbaiki situasi dan segera move on dari kegagalan tersebut.

Remember, they are  not just good leaders, they are creative leaders!

Sudah, sekarang gak usah berandai-andai dan bilang,"Seandainya saja saya punya leader seperti itu"
Lebih baik memulai dari diri sendiri dan mencoba menjadi leader yang lebih baik dan lebih creative ....
Remember this is what they do differently ...

1. Change the language
2. Have a lot of ideas
3. Surprise with the obvious
4. Fail fast, learn fast, Fix Fast

Let's apply those in our daily work.

Pambudi s

Don't Complain / Jangan Mengeluh

19.22 0 Comments A+ a-


ONLY THE LOSERS COMPLAIN.
THE WINNERS DON'T HAVE TIME TO COMPLAIN,
THEY ARE BUSY BUILDING THEIR CAREER

(HANYA PECUNDANG YANG TERUS MENERUS MENGELUH.
PEMENANG TIDAK PUNYA WAKTU UNTUK MENGELUH,
MEREKA SIBUK MEMBANGUN KARIER MEREKA)

Selasa pagi  saya terbang ke Surabaya naik Garuda.
Dan penumpang di sebelah saya pun mengajak ngobrol.
Sebut saja namanya Indah. Ternyata Indah bekerja di sebuah perusahaan lokal yang bergerak di bidang konstruksi di bagian Logistik.
Dan saya pun memperkenal diri sambil menyebutkan bahwa saya bekerja di bagian HR.
Oh ..boy, you will not imagine what is coming.
"O ya? Bapak bekerja di bagian HR? Saya nggak tahu HR di tempat bapak itu bagaimana? Tapi kalau di tempat saya nih Pak, HR itu ......"
(Saya sensor 😀), karena setelah itu keluarlah semua komplain dan keluhan tentang HR di perusahaan Indah.
Saya berusaha mengalihkan topik dengan menanyakan tentang business perusahaannya.
Kembali semua curhat, curcol, komplain , keluhan dan ratapan keluar.
Tentang bisnis yang gak jelas, strategy yang gak terarah, tentang karier dia yang gak berkembang (karena perusahaan tidak memberikan kepastian career path)
..
(Ya Allah, apa dosaku pagi itu ya? Bangun jam 3 pagi, berangkat ke airport jam 4, naik pesawat jam 5.30... to listen to those crap?).

I am trying to be nice, dan menggunakan 3 jurus yang dilakukan oleh laki-laki untuk pura-pura mendengarkan dan pura-pura perhatian kepada teman bicaranya ...

- Jurus 1: Mengatakan "O ya?" Sambil memandang lurus ke depan
- Jurus kedua, bilang,"Masak sih?" Sambil muka berkerut
- Jurus ketiga,"Wah, susah juga ya?" Sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Kemudian saya mengalihkan topik lagi tentang leader leader perusahaan itu, atasan-atasannya.
And it got worse...
Sekarang mungkin sudah bukan komplain lagi... tetapi mendekati ke sumpah serapah.

Well, intinya karier Indah tidak berkembang, gajinya nggak naik naik, ilmunya nggak nambah nambah. Dan Indah komplain habis karena semua itu adalah salahnya perusahaan, salahnya HR, dan salahnya bossnya.


Beberapa jam kemudian, setelah saya check in ke Shangrilla, telepon saya berdering.
Seorang mentée saya yang sedang berada di Hong Kong menelepon.
"Mas Paaaaaaam, Alhamdulillah , aku dapet award."
"O iya.... award apa?"
"Aku dapet award sebagai Best Trainer di Asia Pacific"
"Wow..well done, Puspita, congaratulations .. I am proud of you."

Namanya Puspita (she is one of my mentée), dia bekerja sebagai Training Manager (merangkap sebagai Leadership trainer) di sebuah perusahaan Eropa.
She works extremely hard, tetapi dia selalu tersenyum dan menyebarkan enegry positive ke lingkungannya.

Pada awalnya dia memulai sebagai trainer, kemudian ditambah tugasnya menjadi Training Manager.
Kemudian bahkan ditambah lagi dengan beberapa negara yang harus dia tangani. Sekarang Puspita harus juga responsible untuk Indonesia, Malaysia dan Thailand.
Kebayang sibuknya kayak apa.
Padahal Puspita juga harus mengurus kedua anak perempuannya yang beranjak remaja.

Puspita pernah bercerita,"Tugas saya memang jadi tambah banyak. Saya memang jadi sibuk luar biasa. Tapi mengapa saya harus complain?"

Puspita berhenti sejenak, meminum black coffe (tanpa gula) yang dia pesan.
Kemudian dia mencicipi croissant tuna sandwich, sambil menyantap breakfast kami pagi itu di "Daily Bread".

"Bagi saya pekerjaan itu learning opportunity. Semakin banyak pekerjaan saya berarti itu semakin banyak saya belajar kan. Justru saya harus berterima kasih bahwa boss saya memberikan kesempatan saya belajar lebih banyak lagi"
"Teman teman saya dari negara lain (Philippines dan Malaysia) gak kuat. Komplain dan kemudian keluar. Buktinya mereka gak dapat job yang lebih bagus. Bahkan mereka tidak enjoy juga.
Kemudian boss saya menambahkan ke saya untuk sekarang mengerjakan juga hal yang sama di Thailand dan Malaysia.
Orang lain pengin banget dapat opportunity dan pengalaman kerja di luar negeri.
Apakah saya yang dipercaya boss saya dengan tugas (tambahan) ini harus complain? Enggak kan?"
"Memang saya saat ini belum dipromosikan. Memang gaji saya masih di bawah dari orang orang l

ain yang selevel dengan saya.
Tapi bagi saya yang penting dapat belajar dan pengalamannya.
Dan saya yakin suatu saat, mungkin dua atau tiga tahun lagi, boss saya (atau perusahaan lain) akan mengapresiasi saya."

Dan saya pun kagum pada seorang Puspita yang begitu positive melihat karier dan kehidupannya.
Believe me, she had been through so many difficult  and challenging times in her life.
Tapi dia bisa melihat kehidupan dan karier dengan begitu positivnya.

Kita bandingkan ya dengan Indah.
Indah kariernya gak berkambang, gajinya gak naik naik, gak banyak belajar.
Indah komplain banyak banyak tentang bossnya, perusahaannya dan HR nya?
Apakah dengan attitude seperti itu masa depannya akan lebih bagus ? No way!

Sementara Puspita, menyadari bahwa sekarang gajinya belum naik, kerjaanya makin sibuk, tanggung jawab bertambah....
Tapi dia nggak pernah complain, dia selalu positive dan menganggap bahwa ini adalah proses learning baginya.

Di antara kedua talent ini, mana yang menurut anda suatu saat kariernya akan berkembang pesat?

I am asking you a very easy question, right?
Tentu saja Puspita!

Makanya judul artikel ini adalah...
Only Loser complain.
(Termasuk Indah!).
Bagaimana karier mau berkembang kalau setiap hari Indah hanya complain, tidak mau belajar dan bersikap negatif terus.

Sementara the winners dont have time to compalin.
Para pemenang (termasuk Puspita) tidak punya waktu untuk complain.
Mereka terlalu sibuk , membangun karier mereka !
Saya yakin (dan mendo'akan) bahwa suatu saat Puspita akan mencapai mimpi-mimpinya.

Suatu saat seorang CEO sebuah perusahaan yang sangat dinamis di Indonesia, diminta untuk sharing tentang career development.
Dan dia dengan kontroversialnya bilang," You keep asking about Career Development, career path, kepastian karier, jenjang jabatan ...etc.
Let me tell you, in my company we don't do any of those.
We expect people to WORK, WORK, WORK and GIVE, GIVE, GIVE to the company.
They give more, I like them more.
They dont like this concept, they can leave (there are still many good talents who want to work hard for us).
If they work hard and and contribute a lot to my company, I will promote them.
That's career development.
Easy, right?"

To some extend I agree with him.
Dan tentunya Puspita mengerti itu.
Dan itulah mengapa Puspita kerja , kerja dan kerja (keras).
Sementara Indah komplain, komplain dan komplain (sebanyak-banyaknya).

Saya jadi ingat pepatah Cina yang saya pelajari waktu saya tinggal dj Beijing ....
"Orang baik cari solusi, orang jelek cari alasan (dan komplain)"

Anda pilih yang mana ...
Yang cari solusi atau yang komplain?
Mau jadi Indah atau jadi Puspita?
The choice is yours ....

So, stop complaining, and do like Puspita, work hard and build your career.

Anda bisa mengikuti langkah langkah ini ...

1. PERFORM AT YOUR BEST IN YOUR WORK
Bekerja keras dan berikan yang terbaik untuk perusahaan.

2. CONTINUE TO DEVELOP YOURSELF
Terus meneruslah mengembangkan diri anda sendiri dengan banyak banyak membaca buku dan ikut training.

3. FIND A MENTOR
Carilah Mentor yang bisa membantu anda mengembangkan karier dengan memberikan feedback dan membantunanda memperluas network anda.
Pikirkan apa yang anda bisa lakukan untuk membantu mentor anda.
Jangan hanya berharap dibantu oleh mentor tapi anda tidak bisa memberikan apa apa. Itu namanya symbiose parasitisme.
Harus win win buat kedua belah pihak.

4. SEEK FOR NEW ASSIGNMENT (OUTSIDE OF YOUR CURRENT ROLE)

Berusahalah untuk selalu mengerjakan pekerjaan tambahan, di luar pekerjaan anda, tanpa mengharapkan imbalan pada awalnya.
Kerjakanlah hal hal baru, atau hal hal yang sama tetapi di daerah (atau negara) yang baru, seperti Puspita.
Hal ini akan mempercepat learning curve anda.

5. TAKE CHARGE OF YOUR CAREER, ALWAYS!
Pada akhirnya ingat, yang harus menjadi pilot dari karier anda adalah .... bukan perusahaan, bukan HR, bukan boss anda, tetapi adalah ANDA SENDIRI.
Jadi kalau karier anda berkembang, itu adalah karena jerih payah anda sendiri.
Dan kalau karier anda tidak berkembang, satu satunya orang yang bisa anda salahkan adalah dir

i anda sendiri juga.
So, take ownership of your career.
Stop complaining and start to do something, now!


Selamat membangun karier anda!

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Power of Giving

21.35 0 Comments A+ a-

The Power of Giving

Ada seorang anak berumur belasan tahun bernama Clark yang pada suatu malam akan menonton sirkus bersama ayahnya.

 Ketika tiba di loket, Clark dan Ayahnya mengantri di belakang serombongan keluarga besar yang terdiri dari Bapak, Ibu dan 8 orang anaknya.

Keluarga tadi terlihat bahagia malam itu dapat menonton sirkus.
Dari pembicaraan yang terdengar oleh Clark dan Ayahnya, ...Clark tahu bahwa Bapak ke-8 anak tadi telah bekerja ekstra untuk dapat mengajak anak-anaknya menonton sirkus malam itu.

Namun, ketika sampai di loket dan hendak membayar, wajah Bapak 8 anak tadi nampak pucat pasi.

Ternyata uang 40 dollar yang telah dikumpulkannya dengan susah payah, tidak cukup untuk membayar tiket untuk 2 orang dewasa dan 8 anak yang total harganya 60 dollar.

Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, bagaimana harus mengatakan kepada anak2 mereka bahwa malam itu mereka "batal " nonton sirkus karena uangnya kurang.
Sementara anak2 nya tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar untuk segera masuk ke sirkus.

Tiba2 Ayah Clark menyapa Bapak 8 anak tadi dan berkata:
“Maaf Pak, uang ini tadi jatuh dari saku Bapak”,
sambil menjulurkan lembaran 20 dollar dan mengedipkan sebelah matanya.

Bapak 8 anak tadi takjub dengan apa yang dilakukan Ayah Clark.
Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang tadi dan mengucapkan terima kasih kepada Ayah Clark, dan menyatakan betapa 20 dollar tadi sangat berarti bagi keluarganya.

Tiket seharga 60 dollar pun terbayar dan dengan riang gembira keluarga besar itupun segera masuk ke dalam sirkus.

Setelah rombongan tadi masuk, Clark dan Ayahnya segera bergegas pulang.

Ya, mereka batal nonton sirkus, karena uang Ayah Clark sudah diberikan kepada Bapak 8 anak tadi.

 Malam itu, Clark merasa sangat bahagia.
Ia tidak dapat menyaksikan sirkus, tapi telah menyaksikan dua orang Ayah hebat.

Kebahagiaan tidak hanya diperoleh ketika menerima pemberian orang, tapi juga pada saat memberi.

Ayah Clark telah memberi contoh yang baik kepada anaknya untuk menolong orang dengan cara yang sangat halus dan tidak menurunkan harga diri orang yang ditolong.

🌏 Dunia ini terus berputar, ada kalanya menolong dan adakalanya juga memerlukan pertolongan dari orang.

Pertolongan tidak selalu dalam bentuk uang tetapi bisa dalam bentuk-bentuk yang lain yang mungkin saat ini tak terpikirkan.

Selama masih ada kesempatan untuk menolong sesama, marilah menolong dengan ikhlas dan tidak berharap imbalan........

Pahlawan Itu Kamu, Aku, dan Dia, Bukan Mereka

#keepSHARING

bullying di tempat kerja

15.09 0 Comments A+ a-

*Cara Mengatasi Bullying di Kantor*

Apakah Anda mengalaminya? Dikutip dari Forbes, berikut ini beberapa tanda yang menunjukkan Anda dibully oleh rekan kerja atau Bos di kantor.


*1. Selalu Dikritik*

Kritikan tajam yang terus-menerus dari rekan kerja senior atau bos, bisa menjadi salah satu contoh bahwa Anda sedang dibully.

Padahal, Anda sudah bekerja sebaik dan seobjektif mungkin, tapi masih saja dikritik dan selalu salah. Agar tak emosi, cobalah berusaha menerima kritikan tersebut dan jadikan sebagai pemicu untuk semakin sukses.


*2. Ditikam dari Belakang*

Jika si bos atau rekan kerja selalu menyebarkan gosip atau kebohongan tentang Anda, ini juga merupakan wujud Anda sedang dibully.

Tukang bully biasanya sering menikam dari belakang tanpa berani untuk berbicara secara langsung. Apabila memang ini terjadi pada Anda, coba bicarakan pada si tukang gosip tersebut. Tanyakan mengapa mereka melakukan ini pada Anda.


*3. Mencuri Ide Anda*

Contoh lainnya yang menunjukkan bahwa Anda dibully yaitu apabila ada rekan kerja yang suka mencuri ide Anda, lalu ia menerima pujian dari atasan di kantor.

Sebelum marah, ada baiknya jika Anda mengambil langkah untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Jangan langsung protes atau mengadu ke bos bahwa ide yang dilontarkan rekan kerja tersebut milik Anda.

Jangan bahayakan karir karena nantinya Anda malah akan dianggap sebagai tukang ngadu.


*4. Sabotase*

Kolega yang suka membully, biasanya selalu berusaha untuk membuat Anda gagal dalam setiap pekerjaan.

Misalnya, rekan kerja senior meminta Anda melakukan suatu pekerjaan di saat Anda sedang dalam mengerjakan sesuatu yang harus diselesaikan dengan cepat.

Pada akhirnya, pekerjaan Anda pun tidak akan selesai tepat waktu. Untuk mengatasi hal ini, Anda bisa mengatakan tidak kepada kolega. Bicaralah secara halus dan katakan Anda sudah dikejar deadline.


*5. Suka Marah-marah*

Jika kolega sering marah-marah, mempermalukan Anda depan orang banyak, atau bahkan sampai menghina, padahal Anda merasa tak ada salah apapun, itu juga pertanda dibully.

Bicaralah pada rekan kerja bahwa tak semestinya mereka melakukan hal tersebut pada Anda. Dan tanyakan juga sebenarnya apa salah Anda pada mereka.


*Cara Mengatasi Bullying di Kantor*

Realitas yang harus anda hadapi ketika berada di tempat kerja yaitu terkait dengan politik.

Tentunya anda harus mengikuti permainan yang dijalankan oleh perusahaan tersebut diaman anda bekerja. Sikap bullying memang sangatlah berbahaya serta dapat merusak mental seseoarng yang mengalami hal tersbeut.


Berikut ini tips hadapi bullying di kantor, tanpa harus kita bermain kotor :

*1. Observasi*

Amati terus kekuatan serta kelemahan orang lain serta pahami rasa tidak aman yang memang dapat membuat mereka dengan cepat naik pitam.


*2. Buat mereka terpesona!*

Tunjukanlah pesona anda kepada mereka dengan pengetahuan serta kinerja yang anda miliki ketika berada di kantor.

Cara yang paling efektif dalam menyelesaikan persoalan ini adalah dengan berbicara dari hati ke hati dengan atasan atau rekan kerja yang memang mengucilkan anda.

Tanyakan kepada atasan anda bagaiman pandangannya terhadap kinerja anda selama ini serta bagaiman sikap anda selama di kantor.

Hal tersebut setidaknya bisa membuat atasan anda menghargai kejujuran serta kemauan anda untuk terus belajar.


*3. Jangan memutuskan hubungan!*

Tidak adanya teman yang permanen atau pun musuh di tempat anda bekerja. Saat ini anda tidak sedang bekerja hanya untuk membangun satu keluarga, jadi anda harus lebih bisa menjaga emosional anda serta jangan mudah percaya kepada siapa pun dengan cara yang berlebihan. Percayalah dengan cara yang sewajarnya saja.


*4. Berteman dengan pesaing Anda*

Dalam persoalan ini, saingan anda bisa berarti atasan atau pun rekan kerja anda sendiri.

Dengan anda berteman dengan pesaing anda, mungkin anda akan cenderung untuk melepas senjata yang mereka miliki secraa tidak langsung serta pelan-pelan.

Hal tersbeut dapat membuat mereka tidak mendapatkan apa-apa yang memang tengah mereka inginkan dari diri anda, dan mereka akan kehilangan minat dalam permainan yang tengah kalian mainkan.


*5. Berhenti untuk mengeluh*

Sebagian besar yang menjadi korban bullyling dari segi politik kantor yaitu mereka yang memilih untuk keluar dari pekerjaan mereka saat ini atau pun mencari pilihan lain dengan harapan mereka dapat menemukan tempat kerja yang memang lebih ideal lagi.

Hal tersebut hanyalah mimpi bagi anda, karena orang-orang yang akan tetap bersikeras untuk keluar dari pekerjaan mereka dan terkadang mereka menghadapi masalah terkait harga diri.

Yang paling penting yaitu anda dapat menyadari bahwa setiap tempat kerja memiliki politik serta anda harus benar-benar belajar untuk tetap menangani politik tersebut dengan cara yang benar serta tepat.


*6. Jangan terlalu banyak bergosip*

Bergosip merupakan masalah besar yang bisa membuat diri anda masuk kedalam lingkaran masalah.

Anda harus mengingat, bahwa pepatah mengatakan *“mulutmu adalah harimaumu.”*

Siapa tahu ketika anda tengah membicarakan hal yang terkait dengan atasan anda, ternyata teman anda yang lainnya mengadukan persoalan tersbeut kepada atasan anda.

Hal tersebut sepertinya akan menjadi bumerang yang memang akan berbalik menyerang anda.


Semoga bermanfaat 🙏

*“Learning  and Growing is my responsibility”*