MENJADI SEORANG LEADER DI ERA PENUH KETIDAKPASTIAN

17.13 0 Comments A+ a-

Perang, perang, perang. 

Perang belum juga selesai. Dan kita tidak tahu sampai kapan. Di beberapa negara harga BBM sudah naik, bahkan tidak tersedia. Resikonya, ada kemungkinan kita mungkin juga akan mengalami hal yang sama. Kalau begitu, harga-harga barang kebutuhan akan naik, daya beli masyarakat menurun, dan orang-orang akan mulai menyeleksi hanya membeli barang kebutuhan pokok saja. Beberapa perusahaan global sudah ancang-ancang, berusaha berinovasi, menambah stream revenue baru, sambil sekaligus melakukan efisiensi, mengurangi cost, ujung-ujungnya beberapa perusahaan akan mengurangi jumlah karyawan. Apakah saya paranoid? Mungkin, tapi kadang-kadang yang paranoid akan survive, yang lengah dan santai-santai kehilangan relevansi.

**

Malam itu saya berdiskusi dengan Tania, seorang teman lama. Tania masuk dalam country leadership team di sebuah perusahaan Amerika. Dan hari itu Tania cerita ke saya bahwa CEO nya akan diganti. Pasti hal ini menambahkan ketidakpastian (uncertainty). Padahal pada saat yang bersamaan ada business transformation yang sedang berjalan. Semua Director (termasuk Tania) harus mempropose business model dan organization structure yang baru.

Tania meneruskan ceritanya ...

Dalam suasana seperti inilah timnya, anak buahnya pasti akan banyak banyak bertanya , bagaimana ke depannya ..., apa yang akan terjadi ..., bagaimana nasib mereka ... akankah ada effisiensi? Dan sebagai seorang leader , Tania harus "menenangkan" dan "memotivasi" anak buahnya. Padahal uncertainty (ketidakpastian) ini juga berlaku bagi semua orang termasuk leadernya juga. Jadi, apa yang harus kita lakukan sebagai seorang leader kalau kita berada dalam suasana seperti yang dialami Tania di atas.

**

Ini menarik untuk dibahas, karena saat ini dunia memang penuh dengan ketidakpastian. Business kita, perusahaan kita, department kita, jabatan kita, karier kita memang penuh dengan ketidakpastian. Suatu saat pada sebuah seminar ada seorang karyawan yang menanyakan,"Pak Pambudi, di perusahaan saya itu tidak ada kepastian tentang perusahaan" Well, let me tell you one thing, di jaman ini memang tidak akan pernah ada kepastian. Jaman sudah berganti mas (dan mbak). You cannot expect certainty.

Dunia begitu berubah karena beberapa faktor yang selalu berubah di bawah ini:

- macro economy

- peta politik dan government policy

- daya  beli masyarakat

- kompetisi yang semakin ketat

**

Jadi memang resikonya adalah kita harus selalu siap dengan perubahan dan kita harus siap menghadapi ketidakpastian. Mengharapkan kepastian itu seperti halnya mau berlayar tapi tidak siap menghadapi badai. Angin, topan dan badai pasti akan datang. Tergantung bagaimana kita menghadapinya. Saya pernah melihat film berjudul Poseidon, di mana kapalnya bocor, mesinnya ada yang rusak. Kapal terombang ambing dan air laut mulai memasuki kapal. Pada saat itu berdirilah sang Nahkoda dengan gagah beraninya dan berteriak kepada semua penumpang.

"Perhatian ... perhatian. Kapal kita sedang bermasalah. Ada kebocoran dan ada kerusakan mesin. Kita sedang memperbaikinya dan sedang memanggil bantuan dari darat. Jangan panik. We will be saved"

That's the attitudes of a leader. Transparan , tapi menenangkan dan memotivasi!

Inilah yang kita harapkan dari seorang leader. Jangan hanya menampilkan berita bagus saja. Harus transparan. Ibaratnya pilot, penumpang pesawat kita berhak mengetahui cuaca dan situasi perjalanan mereka.  Kita harus transparan dan menenangkan!

**

Dan di sinilah bedanya seorang leader yang biasa biasa saja dan seorang great leader. Seorang great leader mampu bersikap transparan dan memotivasi anakbuahnya dalam suasana yang penuh dengan ketidakpastian. Terus, apa yang harus dilakukan seorang leader dalam situasi seperti itu?

Lets try the 5 recommended steps bellow:

1. *BE HONEST AND CONSISTENT*

Jujurlah, transparanlah , dan konsisten.

Terangkan ...

- apa yang kita ketahui

- apa yang kita tidak ketahui

- apa yang kita ketahui tetapi belum boleh diceritakan karena masih berupa wacana dan  belum menjadi keputusan

Don't lie to people. They are smart, they will know when you lie and you will lose your credibility.

**

2. *MEET OFTEN and EVALUATE MINDSET*

Dalam suasana ketidakpastian, sebaiknya kita sering sering bertemu mereka. Mereka perlu dimotivasi. Kita perlu mengevaluasi mindst dan kondisi emosional mereka. Kalau jarang bertemu kita akan kehilangan opportunity untuk meng-assess mereka dan akan susah untuk memotivasi mereka.

**

3. *LISTEN AND PAY CLOSE ATTENTION*

During the uncertainty, they need you (as their leader), more than ever. Focus on them. Spend time with them. Listen to them. Pay attention to them. Adresse their concern. Bersama sama , kita mendiskusikan masalah bersama, mencari solusi bersama, kemudian menerapkan solusinya bersama sama.

**

4. *CREATE and SHARE KEY LEARNING MOMENT*

Ingat bahwa dalam suasana ketidakpastian, tidak ada yang tahu pasti apa yang harus dilakukan. Tetap saja kita harus bereksperimen dan mencoba-coba. Kadang-kadang berhasil , kadang kadang gagal. That s ok. Nobody can predict the future. Apapun yang terjadi , renungkan dan ambil pelajarannya, bagikan dan analisa bersama tim kita.

**

5. *REVEAL YOUR EXECUTIVE PRESENCE*

This is uncertainty period. Tetapi kita tetap harus menunjukkan bahwa kita adalah "leader"nya. You are the   boss. Tetap tunjukkan visi strategis kita, trend future, dan juga kemampuan kita mengelola stakeholders tim kita. Setelah itu terjemahkan menjadi action plan yang membantu tercapainya strategic objective kita. That s how you show that you are a real leader.

Jadi ingat ya, justru di saat saat penuh ketidakpastian, team kita membutuhkan kita sebagai seorang leader.

Nah, kita bisa melakukan lima langkah di bawah ini ....

1. BE HONEST AND CONSISTENT

2. MEET OFTEN and EVALUATE MINDSET

3. LISTEN AND PAY CLOSE ATTENTION

4. CREATE and SHARE KEY LEARNING MOMENT

5. REVEAL YOUR EXECUTIVE PRESENCE

**

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

HOW TO PREPARE FOR THE CRASH?

17.07 0 Comments A+ a-

 

(Apa yang harus dilakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi krisis?)

**

Namanya Emma, dia adalah seorang wanita yang menjadi General Manager sebuah perusahaan ternama di Jawa Timur. Saya mengenalnya pada saat dia menghadiri peluncuran buku saya di kota itu, beberapa tahun yang lalu. Minggu lalu, dia menyempatkan diri ngobrol dan diskusi dengan saya, saat sedang perjalanan bisnis ke ibukota.

Saya masih teringat, dia tampak begitu antusias mendengarkan sharing saya dan sempat bertanya pada sessi tanya jawab. Setelah acara selesai dia minta tandatangan dan nomor handphone saya (off course!).

Hari itu dia diskusi dengan saya.

“Mas Pam, dunia akan menghadapi krisis… Perang makin berkepanjangan. Harga bahan bakar minyak akan meroket. Mata uang asing akan melonjak . Harga barang barang dan kebutuhan makin tinggi.

Mau tidak mau, perusahaan saya akan menghadapi masa krisis. Ibaratnya pesawat, kita akan crash, atau minimal mesinnya terbakar. Apa yang saya bisa lakukan?”

**

Emma sangat cerdas. Sementara yang lain masih menunggu dan menunggu. Emma sudah bersiap-siap (dan tahu) bahwa krisis akan terjadi. Bagaimana seandainya tidak terjadi? Ya tidak apa-apa, toh tidak ada ruginya bersiap-siap. Tapi bila krisis terjadi, she will be ready. Lebih baik sedia paying sebelum hujan!

Bahasa management-nya,”Only paradoids will survive.

Ini yang disebut “sense of urgency”, A strong feeling that something needs to be done immediately or very soon.

**

Padahal semua bisnis menghadapi krisis. Itu pasti terjadi. Saya pernah bekerja di Bluebird. Pernah menghadapi krisis perang tarif (atas-bawah), pernah menghadapi gempuran start-up online (dengan aplikasi), pernah menghadapi ancaman pandemy COVID. Dan mereka terus menerus survive, dan bahkan sekarang mencetak profit yang naik terus. Mereka selalu siap menghadapi krisis.

Padahal banyak perusahaan yang gagal, seperti halnya Kodak yang hancur karena orang tidak lagi mencetak foto, seperti halnya Nokia yang bangkrut, karena orang gak lagi banyak ngomong di handphone.

Kuncinya adalah, selalu siaga, selalu percaya diri, jangan rendah diri, jangan lupa diri, tetapi selalu mawas diri.

Apa yang harus Emma lakukan sebelum perusahaan yang dia tangani ini crashed dan jatuh berkeping-keping?

**

OK, sebenarnya sebelum semuanya terlambat. Mulai sekarang Emma seharusnya sudah menyiapkan sumber pendapatan baru selain pendapatan utamanya.

Seperti halnya dalam industri lain. Kalau anda berjualan martabak harus siap-siap, suatu saat lagi (sebentar lagi) kesadaran akan kesehatan makin tinggi, dan pembeli martabak akan turun drastis.

Kalau anda  berjualan rumah, anda harus siap-siap bahwa suatu saat nanti para millenial akan males beli rumah, daripada beli rumah mahal mahal, mendingan uangnya bisa dipakai untuk jalan-jalan dan pamer di social media setiap kali kan? 

Kalau anda berusaha dalam perhotelan, anda harus bersiap siap dengan kompetitor baru, bukan hotel lain, tetapi AirBnB dan HomeExchange.

Semuanya harus bersiap-siap cari sumber pendapatan baru, waktu kinerja bisnis anda masih jaya-jayanya, bukannya sesaat sebelum bangkrut!

Seharusnya begitu ...

**

Ibaratnya sebuah pesawat yang dipiloti oleh Emma, kalau krisis ini berkepanjangan, pesawat ini sedang menukik tajam dan sebentar lagi “crashed”.  Apakah yang harus dilakukan oleh Emma? Masih banyak! Jangan takut Emma.

Jangan menyerah, menyerah itu berat (kata Dilan), biar orang lain aja yang menyerah, kamu jangan !!!

Terus apa dong yang bisa dilakukan oleh Emma untuk menyelamatkan pesawatnya....

Beberapa hal ini bisa dipertimbangkan untuk dilakukan ....

a) *CONTINUE TO SURVIVE,REDUCE YOUR LOAD*

Pertama kali, Emma harus berusaha survive. Semangat! Tapi untuk survive tidak bisa hanya dengan semangat! Emma harus mengurangi beban perusahaan , pangkas biaya pengeluaran sebanyak-banyaknya. Bahkan terpaksa mengurangi pegawai yang tidak berkinerja baik. Memang sulit dan menyedihkan, tetapi tidak ada pilihan lain. Kalau mau pesawatnya terus menerus terbang, ya bebannya harus dikurangi. Itu caranya untuk survive!

**

b) *LOOK FOR NEW OPPORTUNITY*

Cari peluang baru! Bluebird mencari peluang baru dengan juga menyediakan aplikasi online.

Garmin yang tadinya menjual GPS, mencari peluang baru dengan mengembanhkan gadget fitness dan jam tangan modis. Fuji film menciptakan peluang baru dengan menjual zat kimia ke perusahaan kosmetika.

Dalam bisnisnya, Emma harus menciptakan peluang baru di luar yang selama ini dilakukan.

Brainstorming dengan teamnnya, bikin workshop, dan diskusika  apa peluang baru yang bisa dikerjakan!

**

c) *GET THE NEW PEOPLE ON BOARD*

Nah, sesuai dengan opportunity baru, berarti anda perlu untuk merecruit talent-talent baru kan?

Kodak gak bisa berbah menjadi perusahaan digital karena mereka masih mengandalkan begitu banyak insinyur kimia, dan tidak merekrut insinyur digital. Bluebird survive, karena mengefisienkan tenaga-tenaga kerja operasional di pool, dan merekrut artificial intelligence programmers. Banyak perusahaan yang tidak mampu bertahan karena kekurangan capability yang diperlukan di masa depan.

Emma harus segera menentukan new opportunity yang akan dia fokuskan dan segera merekrut talent-talent baru yang dia butuhkan.  

Kalau gak punya duit gimana? Lha, kan di step di atas, ada phase mengurangi LOAD, mengurangi BIAYA, dan mengurangi kartawan, kan? LAKUKAN!

**

d) *DESIGN SOMETHING NEW, ORIGINAL, DIFFERENT*

Bikin sesuatu yang baru dong! Jangan contek punya orang. Cari ide ide baru. Jangan takut, masih banyak yang belum diciptakan dan dikerjakan oleh orang lain. Pada saat di dunia perhotelan sudah banyak hotel mewah, tiba tiba ada yang mengembangkan hotel budget.

Pada saat hotel budget meraja lela, tiba-tiba ada yang mengembangkan AirBnb, sebuah sistem di mana kita bisa menyewa apartemen atau rumah milik orang lain dengan memesan dan membayar online. Tidak lama kemudian ada yang mengembanhkan HomeExchange dan HomeSwap di mana kita bisa menukar rumah kita dengan rumah orang lain di negara lain agar kedua belah pihak bisa liburan gratis tanpa membayar hotel. You see, there is always a room for innovations. The only limit is (not the sky) ,the only limit is your own imagination. Invent something new. Innovate! That s the key to your success in the future!

**

e) *EXECUTE with DISCIPLINE*

Langkah terakhir, apapun ide anda, apapun inovasi anda , jalankan dengan penuh disipline. Banyak sekali perusahaan yang punya ide bagus tapi gagal mengimplementasikan. Kuncinya hanya satu, execution discipline. Dan ini hanya bisa terjadi kalau seluruh team member bekerja sama denga optimum dan penuh motivasi. Seandainya masih gagal? Coba lagi! You might be  very close to your own success!

**

Salam Hangat


Pambudi Sunarsihanto

HOW TO SPREAD POSITIVE ENERGY (Menyebarkan energi positive di tempat kerja)

22.43 0 Comments A+ a-

Di tempat kerja saya yang dulu ada seorang karyawaN bernama Kevin. Dia seorang karyawaN yang cerdas dan perform sangat baik. Sayangnya kalau lagi banyak pressure, dia suka uring-uringan dan pasang muka cemberut. Dan tentu saja hal ini membuat yang lain males berhubungan dengannya.  Akibatnya Kevin pun tidak mendapatkan support yang dia  butuhkan. Pekerjaan yang secara individual bisa diselesaikan akan selesai dengan rapi. Yang memerlukan bantuan yang lain terpaksa delay atau tidak completed. Lama lama teman temannya sudah banyak yang dipromisi melampaui level Kevin sementara level Kevin seperti jalan di tempat selama 6 tahun terakhir ini.

**

Saya punya teman satu lagi bernama Tari. Bekerja sebagai  Manager di sebuah perusahaan Amerika. Dan meskipun tanggung jawabnya banyak, dia sibuk, dan harus kadang kadang pulang malam, Tari tetap ceria, murah senyum dan menyapa semua orang dengan ramah, dan suka menolong teman-temannya.

She spreads the positive energy all over the work place. Dan memang ternyata karier Tari berkembang pesat, bahkan dia masuk di daftar High Potential di perusahaannya. Padahal hanya very selective people yang dimasukkan ke program itu.

**

Saya rasa kita semua mengenal banyak Kevin dan juga beberapa Tari di tempat kerja. Ada yang uring uringan terus... dan ada yang tersenyum ceria terus.Does it mean ada yang punya masalah dan ada yang tidak punya masalah? No way! Semua orang hidup (dan bekerja) pasti punya banyak masalah. Ada yang bisa meng handle dan memanage dengan baik (dan menyimpannya untuk diri sendiri).  Ada yang tidak mampu (dan menyebarkan masalah dan uring-uringannya ke orang lain).  Kalau kita bertemu dengan orang orang seperti Kevin, setelah itu seolah-olah energy kita habis, ada yang menyebutnya energy drainer. Bagaimana energi, nggak habis kalau tiap kali bertemu tampangnya uring-uringan dan mukanya cemberut begitu. Tetapi kadang-kadang kita juga bertemu dengan orang-orang seperti Tari. Da  setelah itu kita seperti naik energy level kita ( energy charger). Dan kita sering kan mengenali orang orang seperti itu. Ada yang kalau kita bertemu mereka setengah jam setelah itu kita seperti terasa fresh dan mendapatkan energy. Tetapi ada juga yang baru bertemun15 menit aja, serasa kita mau marah marah juga dan capek mentally

**.

The question is ... are you an energy drainer or an energy charger?

Mungkin terasa sepele pada awalnya, mungkin ada yang merasa suka-suka daya, muka-muka saya, tampang-tampang gua. Mau cemberut kek, mau senyum kek, mau menyebarkan energy positif kek, itu kan hak-hak kita. I fully agree. That's your prerogative right.

However .....di tempat kerja itu kan kita nggak sendirian ... You need to work with others, you need to get help from others and you need the support and cooperation from others.

Kan kita nggak kerja sendirian. Kalau tiap kali cemberut aja , ya jangan complain kalau temen-temen anda malas berurusan (dan membantu) anda.

Akibatnya pekerjaan anda akan sering tidak complete atau delay, dan lama lama mempengaruhi performance (dan promosi) kita. And when that happen, satu satu nya yang bisa di blame adalah orang yang berdiri di depan cermin tadi pagi (diri anda sendiri!).

Now I hope you understand how important is to spread positive energy to others ....

**

Dan saya pun penasaran dan tertarik dengan teman saya, Tari. Bagaimana dia bisa terus menerus spread positive energy to others. Dan saya pun bertanya bagaimana dia (dengan segala macam permasalahan hidup yang juga dia punyai) masih mampu tersenyum cerah dan ceria sepanjang hari.

Tari mengibaskan rambut panjangnya yang legam dan tersenyum lebar .... memulai ceritanya.

"I tried to share the happiness and hide my sadness"

Semua orang punya masalah dan kebahagiaan. Kalau kita sharing masalah ternyata kita akan menambah masalah. Kalau kita share happiness ternyata juga menambah kebahagiaan kita sendiri.

Jadi buat apa sharing kesedihan dan masalah kita ke orang lain? Semua orang punya masalah di rumah ... but is it fair to share to everybody in our office about our mood? They have nothing to do with ghe problem that you have. Why should they face the consequence of your problem? Saya memilih untuk menyimpan masalah saya ... dan share my happiness to others .... Ternyata dengan sharing happiness to others I increased my own happiness. Wow ... that's great. Thanks for sharing this, Tari.

**

Terus saya bertanya,"Kalau sedihnya sedih berat atau marahnya marah berat, memang masih bisa menahan atau menyimpannya sendiri?" 

Tetapi kalau saya benar-benar tidak bisa menahannya sendiri lagi, saya akan meminta bantuan ke orang orang terdekat yang saya percaya. Atau kalau memang perlu, saya akan mencari profesional help. Psikolog, psikiater atau dokter. Yang penting adalah mengetahui limit kita sendiri. Ada juga teman saya yang berusaha menyimpan semuanya sendir. Kelihatan tegar di luar. Tetapi ternyata kemudian sakit, karena sebenarnya her mind cannot take it anymore. Make sure you understand your limit ..."

Tapi intinya, choose carefully the people who can understand your problem and frustrations, dont show to anybody (or everybody) in the work place .... Jangan menunjukkan kepada semua orang.

Maksudnya kalau anda lagi  banyak masalah nggak usah uring-uringan atau marah-marah ke semua orang di kantor.

Because... Seperti Tari bilang .... Share your happiness and hide your sadness.

**

Terus... bagaimana dong untuk spread the positive energy di tempat kerja? (Dan ini  berlaku untuk leader maupun semua employees):

1. START WITH THE POSITIVE THINKING

Try to look at everything from positive side. Sejelek apapun seseorang pasti ada positive nya yang bisa kita pelajari dari dia. Jadi... hindari ngomong,"Dia memang pintar tetapi sombong ....". Lain kali ucapkan ,"Dia memang pintar, dan saya akan belajar tentang hal ini ke dia " (sambil mengamati dan mendengarkan dia)

**

2. IDENTIFY THE POSITIVE SIDE OF YOUR COLLEAGUE

Coba perhatikan siapa saja teman teman terdekat anda. Catat 3 hal positive tentang mereka. Forget the negative things about them.

**

3. TELL YOUR COLLEAGUES WHY YOU LIKE/APPRECIATE THEM

Jangan malu-malu, bilang saja apa yang positive tentang teman anda. Kan kita bisa saling belajar satu dengan yang lain dari hal hal positive yang dimiliki kedua belas pihak.

**

4. GIVE THEM FULL ATTENTION

Anda akan menyebarkan energy positive dengan memberikan mereka perhatian penuh. Look at them, listen to them, show you like them, show you care about them.

**

5. MAKE THEM SMILLE

Sebarkan energy positive dengan membuat mereka tersenyum (atau tertawa)..

Energy positive yang timbul dari senyuman teman anda akan kembali ke tubuh anda menyebarkan enery positive untuk smile anda yang lebih besar dan berseri-seri lagi.

**

Kita coba yuuuuuk....

Salam hangat,


Pambudi Sunarsihanto

THE DEATH OF BLACKBERRY

04.09 0 Comments A+ a-


Minggu lalu, saya dan teman-teman alumni ITB yang tinggal di Bogor, kumpul-kumpul sambil ngobrol-ngobrol di daerah Taman Yasmin. Kami sekitar belasan orang. Menarik juga, bercanda, diskusi sambil minum kopi dan makanan ringan.

Tiba-tiba ada nyeletuk,”Dulu kita semua masih pakai Blackberry ya, waktu itu terasa keren banget.”

Dan memang itu benar. Tahun 2009, saya dan keluarga pindah dari Beijing ke Jakarta. Dan waktu itu kami seperti “Alien” yang mendarat dari planet lain, ke planet Bumi. Tiba-tiba semua orang, teman, keluarga, kolega, semua bertanya,”BB PIN nya berapa pak?”

Dan saya dan istri saya melongo. Kami tidak punya Blackberry. Dan itu seperti dianggap hal yang aneh. 

Lebih parah lagi, di rumah kakak ipar, saya pinjam charger handphone. Dia bilang,”Oh handphone itu, bukan Blackberry. Sebentar ya, kayaknya pembantu rumah tangga kami masih pakai handphone biasa juga.”

**

Tentu saja, saya harus menyesuaikan diri, dan tidak lama kemudian menggunakan Blackberry. Waktu itu memang Blackberry hebat sekali. Perusahaan Kanada, RIM (research in motion) yang dirintis Mike Lazaridis and Douglas Fregin.

Waktu itu kita familiar dengan tipe-tipe seperti 8520 (Gemini), 9000 (Bold), Torch, Bellagio, Dakota … dan lain-lain. Blackberry sangat sukses, karena dirancang oleh dua computer engineer, dengan focus pada security. Maka informasi di dalamnya pun sangat aman, dan tidak bisa dibuka atau di-hack oleh yang lain, selain penggunanya. Tentu saja ini disukai oleh perusahaan-perusahaan yang sangat mengutamakan security of information.

Nokia yang tadinya meremehkan mereka, karena pengguna Blackberry hanya pengguna corporate, akhirnya harus menelan pil pahit. Serelah pengguna corporate, lama-lama pengguna pribadi juga sangat menyukainya. Saya belum mengerti mengapa bapak-bapak ingin informasinya “secured” dari istri-istri mereka, tapi ya sudahlah, itu urusan mereka.

Lama-lama market share Nokia turun drastic dihajar Blackberry. Dan Blackberry menuai kesuksesan mereka selama beberapa tahun. Mereka menjadi salah satu market leader pada tahun 2010-an.

**

Sayangnya, tiada yang kekal dan abadi di dunia ini. Siang berganti malam, malam berganti siang. Kesuksesan masa lalu sama sekali tidak menjamin kesuksesan di masa depan. Pada tahun 2015, market share itu mendekati NOL persen. Dan Blackberry pun bangkrupt (bahasa Inggrisnya), bangkrut atau tutup (bahasa Indonesianya), dan KUKUT (bahasa Jawa). Sayang sekali kejayaan itu tidak bertahan lama. 

Apa yang terjadi? Mengapa mereka bisa tutup dengan product sehebat itu?

Pada tahun-tahun itu , saya berpindah karier dari sebuah perusahaan yang memproduksi HandPhone ke perusahaan yang menjadi operator telekomunikasi (market leader di Indonesia). Jadi saya bisa dengan obyektif menganalisa. Ternyata ada 3 faktor yang membuat mereka jatuh.

1) *Slow adapt to Technology*

Ternyata Blackberry begitu bangga pada technology mereka (messaging, security, corporate services), yang membuat mereka unggul di awal, tapi ternyata setelah itu mereka lambat dalam mengembangkan upgrade dan update teknologi berikutnya. Misalnya tentang feature touch-screen, yang mereka lambat dibandingkan dengan competitor. Akibatnya pelan-pelan pelanggan meninggalkan Blackberry.

**

2) *Neglect consumer market*

Blackberry begitu focus pada Corporate services, dan mengabaikan consumer market (pelanggan pelanggan pribadi). Kompetitor mereka datang dengan product yang lebih menarik buat para pelanggan, dan akibatnya pelan pelan mereka meninggalkan, dan akhirnya pelanggan corporate pun mulai berpaling.

**

3) *Limited Applications ecosystem*

Lama kelamaan, pelanggan tidak hanya membutuhkan messaging, tetapi juga aplikasi yang lain, music, podcast, internet browsing, search engine, meeting/scheduling dan lain-lain. Kejatuhan Blackberry semakin parah, saat competitor menawarkan apps-apps tersebut dengan cepat, saat mereka belum siap.

**

Kasus Blackberry membuat kita belajar. Begitu banyak perusahaan yang menjadi No.1 tapi kemudian lengah dan akhirnya binasa. Semoga hal ini menjadi pelajaran bagi perusahaan perusahaan yang sekarang menjadi No. 1.

Terus bagaimana dong? Intinya adalah....*Become No. 1, but behave like No. 2*

Harus tetap selalu semangat dan competitive setiap hari!

Kalau di depan anda tidak ada competitor (karena anda sudah menjadi No. 1), ciptakan musuh bayangan di depan anda. Your enemy will be yourself. Selalu bandingkan performance anda tahun ini dengan performance anda tahun lalu. Perbesar growth anda dari tahun ke tahun

**

Terus secara kongkrit, apa yang kita  bisa lakukan bersama dengan tim kita di perusahaan.

a) *Focus on your customers*

Selalu amati apa yang customer anda lakukan. Siap siap berinovasi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ingat, sebenarnya Blackberry tidak pernah kalah dari competitor mereka. Tapi mereka  gagal mengantisipasi bahwa customer tidak hanya memerlukan messaging services, mereka memerlukan begitu banyak apps lain.

Look, watch, observe and analyze your customer.

Tidak boleh lengah, selalu amati mereka, dan berikan apa yang terbaik (dan paling relevant) untuk mereka.

**

b) *Be paranoid, scare yourself, scare your team*

Memang enak kalau kita menjadi pemenang. Masalahnya bisnis kita ini bukan seperti lari 100 meter (sprint). Bisnis kita ini bisa diibaratkan seperti marathon.Perlombaan lari yang sangat panjang. Memerlukan stamina yang tinggi. Competitor anda akan selalu bersiap siap untuk mengejar dan menyalip anda. Scare yourself. Scare your team. Wake up. Send the sense of urgency.

**

c) *Build a challenger mindset*

Bersikaplah seperti nomor dua atau tiga. Kalau perlu undang mereka yang sedang menjadi challenger di industry lain dan tanyakan apa saja yang mereka lakukan agar competitive. Undang juga seorang market leader yang lama berada di posisi puncak di Industri lain dan tanyakan bagaimana mereka mempertahankan diri sekian lama.

**

Remember, in the end of the day, you have to be No. 1, and behave like No.2, it will help you to stay as No.1

**

Salam Hangat,


Pambudi Sunarsihanto